detikNews
Jumat 03 Mei 2019, 05:35 WIB

Polri Perbanyak Kegiatan Intelijen Cegah Vandalisme Kelompok Baju Hitam

Arief Ikhsanudin - detikNews
Polri Perbanyak Kegiatan Intelijen Cegah Vandalisme Kelompok Baju Hitam Foto: Mukhlis Dinillah
Jakarta - Polri mengatakan bakal memperbanyak kegiatan intelijen dalam rangka mitigasi atau mencegah aksi vandalisme kelompok berbaju hitam seperti di Hari Buruh terulang. Menurut polisi, kegiatan intelijen itu juga dilakukan untuk mengidentifikasi profil kelompok tersebut.

"Kita sudah berhasil identifikasi kelompok tersebut, kita lebih banyak melakukan kegiatan intelijen, dalam rangka mitigasi, identifikasi, dan profiling kelompok tersebut," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, saat dihubungi detikcom, Kamis (2/5/2019).

Selain itu, Dedi menyatakan pihaknya bakal melakukan edukasi bagi para pelajar yang diamankan akibat melakukan aksi vandalisme pada hari buruh. Langkah tersebut dilakukan karena 50 persen pihak yang diamankan masih berusia remaja.

"Kemudian jajaran wilayah akan lakukan upaya persuasif edukasi, karena kalau di Jawa Barat, hampir 50 persen anak belasan tahun," kata Dedi.

Dedi menyatakan aksi vandalisme yang diduga dilakukan oleh kelompok berbaju hitam saat aksi May day terjadi di beberapa kota. Menurutnya, yang aksi vandalisme paling banyak terjadi di Jawa Barat.

"Di Jabar 619, paling banyak Jabar, Metro berhasil diredam, Surabaya 6, Malang 2, kemudian Jateng nihil. di Makassar masih nihil, memang paling kelihatan tumbuh banyak di Bandung," Ujar Dedi.

Dia menyatakan ada kesamaan ciri dari para pelaku vandalisme ini. Namun, Dedi mengatakan butuh penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui apakah aksi di tiap kota saling berkaitan satu dan lainnya.
Karo Penmas Brigjen Dedi PrasetyoKaro Penmas Brigjen Dedi Prasetyo Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

"Lihat dari cirinya, dan pola dia melakukan kegiatan vandalisme, dan simbol bendera huruf abjad 'A' memiliki kemiripan, tapi kalau ditarik benang merah keterkaitan, masih harus pendalaman lagi," ucap Dedi.

Sebelumnya, massa berpakaian hitam-hitam muncul di demonstrasi peringatan Hari Buruh Sedunia (May Day) 2019. Mereka beraksi di berbagai kota dan melakukan perusakan.

Mereka berpakaian hitam, baik kaos atau jaket, beberapa dari mereka juga mengenakan jaket bertudung. Celana mereka juga banyak yang berwarna hitam. Wajah mereka ditutupi oleh masker atau topeng kain hitam.

Di Bandung, misalnya, massa berpakaian serba hitam ini dikatakan polisi telah menyusupi demonstrasi kaum buruh. Aksi mereka terpantau di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (1/5). Usut punya usut, massa hitam-hitam di demo buruh ini adalah anak-anak usia sekolahan dan mahasiswa, dari SMP hingga tingat perguruan tinggi.

Mereka melakukan aksi vandalime terhadap mobil dan fasilitas umum di sekitar Monumen Perjuangan. Alat-alat sepeti cat semprot hingga double stik disita. Polisi tengah mendalami motif dari aksi yang bertepatan dengan peringatan hari buruh tersebut. Sejauh ini, diketahui mereka bergerak berkelompok dari Cikapayang menuju Gedung Sate menyusup aksi buruh.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun angkat bicara soal kelompok berjau serba hitam itu. Dia mengatakan massa berbaju hitam-hitam yang membuat ricuh aksi May Day di Kota Bandung adalah kelompok anarcho-syndicalism. Tito menyebut kemunculan kelompok ini sebagai fenomena di kalangan pekerja di Indonesia.

"Ada satu kelompok namanya anarcho-syndicalism, dengan simbol huruf A. Ini bukan kelompok fenomena lokal, tapi fenomena internasional," kata Tito di gedung Rupatama Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (2/5).


Simak Juga "LBH Sebut Penangkapan Massa Berbaju Hitam di May Day Tak Jelas":

[Gambas:Video 20detik]


(aik/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed