DetikNews
Kamis 02 Mei 2019, 13:54 WIB

Jaksa Tanya soal Gaji Dirut Pertamina, Karen Agustiawan Keberatan

Faiq Hidayat - detikNews
Jaksa Tanya soal Gaji Dirut Pertamina, Karen Agustiawan Keberatan Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Karen Agustiawan keberatan persoalan gaji yang diterimanya ketika menjabat Direktur Utama PT Pertamina (Persero) ditanyakan jaksa dalam persidangan. Karen merasa pertanyaan jaksa tidak seharusnya dilontarkan.

Tentang gaji Karen itu ditanyakan jaksa pada seorang saksi bernama Sri Harjanti, yang bekerja sebagai junior officer di Pertamina. Dari Sri, terungkap berapa gaji yang diterima Karen per bulan saat menjadi orang nomor satu di Pertamina.




"Terakhir yang saya ingat, pendapatan untuk gaji Rp 220 juta setiap bulan," kata Sri saat duduk di kursi saksi dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (2/5/2019).

Selain itu, menurut Sri, ada pendapatan di luar gaji yang diterima Karen berupa tantiem. Tantiem merupakan bagian keuntungan perusahaan yang dihadiahkan kepada karyawan, yang baru dapat diberikan bila perusahaan memperoleh laba bersih.

"Betul, rutin itu Ibu (Karen) mendapatkan tantiem, ya, kalau dirata-rata Rp 10 miliar ya sebulan, sebagai komisaris anak perusahaan kami, misalnya PHE (Pertamina Hulu Energi), itu sekitar Rp 50 juta sekian, itu pendapatan," ucap Sri, yang pernah juga menjabat Asisten Sekretaris Dirut Pertamina.

Terlepas dari itu, Sri mengaku pernah diperintah Karen mengirimkan uang untuk pembayaran sekolah anak Karen di Australia. Pengiriman uang itu, disebut Sri, terjadi beberapa kali.

"Untuk pembayaran anak-anak sekolah, anak pertama itu University Melbourne, lalu kedua juga, ketiga juga di Australia," ucap Sri.

Seusai persidangan, Karen menyampaikan keberatan. Karen mengaku sudah buka-bukaan tentang gaji yang didapatnya. Dia merasa wajar saja dengan pendapatan itu bisa menyekolahkan anaknya di mana pun, termasuk di luar negeri. Atas hal itu, dia merasa pertanyaan jaksa yang mengulik tentang pendapatannya sebagai hal yang tidak wajar.




"(Persoalan gaji yang diterima saat menjadi Dirut Pertamina) bukan hal yang tidak wajar. Saya tanya nggak tahu kok sampai ada stigma seperti itu," ucap Karen.

"Masa dengan jumlah uang segitu nggak bisa nyekolahin anak ke luar negeri? Kan aneh banget. Kok apa sih--penukaran yang nilainya cuma buat anak sekolah--dipertanyakan. Saya ingin menjelaskan saja kepada, barangkali banyak yang tidak tahu, sebetulnya jumlah gaji dirut itu cukup, sangat cukup untuk menyekolahkan sampai S3," imbuh Karen.

Dalam persidangan itu, Karen sebelumnya didakwa ikut melakukan korupsi dalam investasi blok Basker Manta Gummy (BMG). Karen didakwa melawan hukum dalam investasi Pertamina sehingga menyebabkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 568 miliar.
(fai/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed