DetikNews
Jumat 26 April 2019, 07:10 WIB

Blak-blakan Arief Budiman

Tak Masuk Akal Menuding KPU Curang

Erwin Dariyanto - detikNews
Tak Masuk Akal Menuding KPU Curang Ketua KPU Arief Budiman (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
FOKUS BERITA: Mantap Memilih!
Jakarta -

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman menegaskan kesalahan memasukkan data perolehan suara pasangan capres 01 dan 02 cuma terjadi di 105 dari 810 ribu TPS (tempat pemungutan suara). Jumlah itu sangat jauh dari margin of error yang biasa ditoleransi dalam sebuah perhitungan statistik.

[Gambas:Video 20detik]

Dari 105 TPS itu, kata Arief, yang berdasarkan laporan masyarakat hanya berasal dari 27 TPS. Selebihnya karena kecermatan para petugas di lapangan dan hingga Kamis (25/4) koreksi sudah dilakukan di 65 TPS.

"Peserta pemilu dan masyarakat bisa menemukan terjadi kesalahan itu karena kami transparan, Jadi, nggak masuk akal kalo kami itu dituduh curang. Apalagi sampai kemudian membangun opini seolah terjadi kecurangan secara terstruktur, sistematis, masif, dan brutal," papar pria kelahiran Surabaya, 2 Maret 1974, itu kepada tim Blak-blakan detikcom.


Sejauh ini, Arief melanjutkan, kesalahan memasukkan data terjadi karena faktor kelelahan petugas. Tapi, bila terindikasi ada petugas yang memasukkan data dengan sengaja berdasarkan pesanan untuk menggelembungkan suara salah satu pasangan, hal itu bisa dipidanakan. "Silakan dipidanakan," tegas alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, Surabaya, itu.

Arief, yang sejak awal reformasi aktif sebagai pengawas pemilu, juga mengungkapkan bahwa kesalahan input data sejatinya tak cuma terjadi hanya untuk pasangan 01, tapi juga 02. Sejumlah media, misalnya, melaporkan terjadi kesalahan input di TPS 07 Cilowong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang. Di situ suara Prabowo-Sandiaga kelebihan 600 suara dari seharusnya 184 suara. Begitu juga di TPS 10 Kindang, Bulukumba, pasangan 01 tersebut bertambah 900 suara dari seharusnya 98 suara.

"Jadi sebetulnya terjadi untuk 01 dan 02, cuma yang paling banyak disebar di media sosial seolah cuma untuk 01," kata Arief.


Pada bagian lain, dia juga mengungkapkan soal awal mula dipilihnya kotak suara berbahan kardus. Juga pemelintiran isu seolah-olah orang-orang dengan gangguan kejiwaan sengaja didaftar menjadi pemilih untuk menguntungkan salah satu kandidat.

Terkait kotak suara berbahan kardus, kata Arief, itu merupakan keputusan bersama DPR dan pemerintah. Selain lebih efisien untuk dikerjakan dalam waktu yang mepet, biayanya lebih murah dan tak perlu gudang penyimpanan pasca-pemilu. Kotak jenis ini sudah dipakai mulai Pemilu 2014 serta Pilkada 2015, 2017, dan 2019, dan selama itu sama sekali tak ada masalah.

Terkait tudingan bahwa orang gangguan jiwa sengaja dilibatkan untuk memenangkan perolehan suara petahana, Arief juga menepisnya. Sebab, hal itu berlangsung sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Hal itu merujuk pada putusan Mahkamah Konstitusi. "Lagi pula angkanya cuma 54.295, bukan 13 juta seperti yang sengaja diviralkan," ujarnya.

Selengkapnya, tonton Blak-blakan Ketua KPU Arief Budiman, 'Menjawab Tuduhan Curang', Jumat, 26 April 2019.




(jat/jat)
FOKUS BERITA: Mantap Memilih!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed