DetikNews
Kamis 25 April 2019, 18:41 WIB

Ahli di Sidang Ratna Bicara Pengaruh Dunia Maya ke Kehidupan Nyata

Ibnu Hariyanto - detikNews
Ahli di Sidang Ratna Bicara Pengaruh Dunia Maya ke Kehidupan Nyata Ratna Sarumpaet (Foto: Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Ahli sosiologi Dr Trubus berbicara soal pengaruh dunia maya terhadap dunia nyata di persidangan Ratna Sarumpaet. Trubus menyebut dunia maya merupakan representatif dari dunia nyata.

"Masyarakat yang ada di dunia maya sama kaya di rill. Tapi mereka ada hubungan intra, maksudnya individu-individu miliki satu hobi, lalu kebutuhan. Ada juga dasar sama, asal-usul agama, golongan sama. Ini adalah kajian sosiologi. Apakah sama di masyarakat? Sama," kata Dr Trubus saat dimintai pendapat sebagai ahli di persidangan Ratna Sarumpaet di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Kamis (25/4/2019).


Trubus mengatakan apa yang terjadi di dunia maya bisa membentuk perilaku seseorang di dunia nyata. Menurutnya, bila dunia maya selalu menyajikan hal-hal yang negatif, akan berpengaruh negatif pula ke dunia nyata, begitu juga sebaliknya.

"Apa yang terjadi di dunia maya itu membentuk perilaku orang. Misal di dunia maya menyajikan pornografi kemudian ini berpengaruh perilaku seseorang. Pengaruh itu sendiri yang sampai hari ini dalam sosiologi dunia maya jadi kajian," sebutnya.

Jaksa kemudian menanyakan soal dampak dari berita bohong yang disebar di media sosial. Trubus menyebut besar atau tidaknya pengaruh hoax itu tergantung status sosial penyebarnya.

"Dengan mempunyai status, mempunyai peran, dia punya pengaruh tinggi terhadap kelompoknya atau lingkungannya. Karena ini kaitan dengan perubahan sosial. Kalau individu itu buat pernyataan negatif ya otomatis pengaruh ke kelompoknya yang negatif. Kalau pengaruh tokoh punya status dan peran positif, pengaruhnya positif," ujar dia.


Menurutnya, dalam dunia sosiologi, kedudukan peran seseorang sangat penting. Ia menilai, bila berita bohong itu disebarkan dengan tujuan provokasi, akan timbul keonaran di tengah masyarakat.

"Kalau tujuannya memang provokasi, bisa berpengaruh negatif. Maka di sini bisa saja disebut keonaran atau kecemasan, keributan keonaran dan anarki," kata Trubus.

Dalam perkara ini, Ratna Sarumpaet didakwa membuat keonaran dengan menyebarkan kabar hoax penganiayaan. Ratna disebut sengaja membuat kegaduhan lewat cerita dan foto-foto wajah yang lebam dan bengkak yang disebut penganiayaan. Padahal kondisi wajah Ratna disebut jaksa karena operasi plastik.

Ratna didakwa melanggar Pasal 14 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.
(ibh/zak)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed