DetikNews
2019/04/25 06:29:19 WIB

Round-Up

Klaim BPN Versus Sindiran TKN

Marlinda Oktavia Erwanti, Indra Komara, Elza Astari Retaduari - detikNews
Halaman 1 dari 2
Klaim BPN Versus Sindiran TKN Ilustrasi Jokowi vs Prabowo. (Mindra Purnomo/detikcom).
Jakarta - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengeluarkan sejumlah klaim terkait hasil Pilpres 2019. Klaim-klaim tersebut dibalas sindiran oleh Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin.

Ketua BPN Prabowo-Sandiaga, Djoko Santoso mengklaim pasangan nomor urut 02 itu bisa menang telak pada Pilpres 2019. Hal tersebut disampaikan Djoko Santoso di hadapan relawan Prabowo-Sandiaga yang menggelar syukuran atas klaim kemenangan pihaknya.

"Pada tanggal 17 April, dan hasilnya memang Prabowo-Sandi menang. Walaupun sebelum tanggal 17, tanggal 17 dan setelah tanggal 17 mereka curang terus. Curangnya ini sudah tidak aturan, mereka secara masif, terencana sistematik, dan brutal," kata Djoko di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta Timur, Rabu (24/4/2019).


Dalam kesempatan itu, Djoko mengklaim kemenangan Prabowo-Sandiaga atas Jokowi-Ma'ruf Amin. Hal senada juga disampaikan Prabowo dalam beberapa deklarasi kemenangannya.

"Namun demikian masih tersisa suara 62%, dan itulah Prabowo-Sandi menyatakan kemenangan setelah dicurangi. Kalau nggak dicurangi, bisa 70 atau 80%," ucap Djoko Santoso.

Klaim Djoko Santoso itu dibalas sindirian TKN Jokowi-Ma'ruf Amin. Menurut Wakil Sekretaris TKN Jokowi-Ma'ruf, Raja Juli Antoni, Djoko Santoso tengah berhalusinasi.

"Politik membuat elite di Jakarta berhalusinasi (halu). Mimpi di siang bolong. Mimpi kali ye menang 80%," kata Antoni, Rabu (24/4).

Klaim BPN Versus Sindiran TKNFoto: Raja Juli Antoni. (Ari Saputra/detikcom).

Sekjen PSI ini pun menilai rekonsiliasi kubu Jokowi-Ma'ruf dengan Prabowo-Sandiaga kini sulit terealisasi. Hal itu, menurut Antoni, terjadi lantaran klaim kemenangan Prabowo meski mayoritas lembaga survei menyatakan Jokowi unggul versi quick count (QC) atau hitung cepat.

"Kita kehilangan momentum rekonsiliasi pada tanggal 17 April sore atau malam hari ketika yang kalah berdasarkan QC seharusnya menelepon pemenang dan kemudian menyampaikan pidato kekalahan di depan publik," tuturnya.

Sulitnya rekonsiliasi pascapemilu dianggap sebagai kegagalan yang disebabkan oleh elite. Kegagalan itu lah yang dinilai memecah rakyat. "Semua ini karena ego elite Jakarta. Halu dan mimpi di siang bolong," ucapnya.

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed