DetikNews
Minggu 21 April 2019, 18:50 WIB

Cerita Perjuangan Polri Kawal Surat Suara di TPS Rawan Teroris

Mei Amelia R - detikNews
Cerita Perjuangan Polri Kawal Surat Suara di TPS Rawan Teroris Foto: dok. Istimewa
Kabupaten Sigi - Tak mudah mengawal surat suara Pemilu 2019. Salah satu gambarannya adalah pengawalan surat suara di Sigi, Sulawesi Tengah, yang rawan teroris.

"Ada beberapa TPS yang rawan teroris, yaitu TPS di Dusun Manggalapi, Desa Rejeki, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi," kata Kapolres Sigi AKBP Wawan Sumantri dalam keterangan kepada detikcom, Minggu (21/4/2019).

Mengingat rawannya TPS tersebut, pengamanan ekstra diberikan untuk mengawal petugas KPPS. Polri mengerahkan personel khusus untuk mengawal logistik pemilu.

"Ada enam personel yang back up dari Brimob Polda Sulteng dan empat anggota Intel Polres Sigi yang tergabung dalam Operasi Tinombala," jelasnya.

Selain kondisi yang rawan teroris, polisi harus berjuang mengantarkan logistik pemilu dengan selamat karena medan yang berat. Misalnya saja, di Dusun Manggalapi, pada Selasa (16/4) petugas mengalami kendala.

"Kondisi medan yang cukup sulit untuk dilalui dengan kendaraan, ditambah lagi cuaca yang saat itu sedang turun hujan, karena tidak ada tempat untuk berteduh, maka petugas tetap melanjutkan perjalanan," tuturnya.

Setelah melalui kondisi cuaca yang berat, petugas harus melewati sebuah sungai. Petugas sempat terhenti karena debit air di sungai meningkat dan mengalami banjir sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan penyeberangan.

"Sekitar pukul 18.36 Wita, debit air sungai masih belum turun/surut dan hujan masih saja turun, petugas masih terus memantau debit air sungai," ucapnya.



Hari kian larut, sekitar pukul 19.42 Wita, ketika debit air mulai turun dan hujan sudah reda, petugas membongkar logistik dari atas motor. Petugas kemudian bergotong royong menyeberangi sungai sambil memanggul logistik agar tidak terkena air.

Setelah menyeberangkan logistik, giliran motor yang diseberangkan. Setelah semua selesai, polisi dan petugas KPPS kembali melanjutkan perjalanan ke TPS tujuan, di mana rutenya cukup rawan karena sering dilewati oleh kelompok teroris.

"Petugas melanjutkan perjalanan melewati hutan serta jalan yang cukup terjal dan penuh kesiapsiagaan serta kewaspadaan karena jalur tersebut merupakan wilayah yang sering dilewati oleh para DPO teroris pimpinan Ali Kalora cs," jelasnya.

Larut malam menjelang hari-H pencoblosan, petugas masih di perjalanan. Pada pukul 23.00 Wita, petugas beristirahat di pondok seng (sebutan masyarakat setempat), dikarenakan salah seorang warga yang membawa kotak suara yang berasal dari Dusun Manggalapi menyampaikan bahwa masih banyak sungai yang akan dilalui dan dipastikan sungai-sungai tersebut mengalami banjir.

"Sehingga petugas berinisiatif berteduh di pondok seng tersebut, petugas tetap melakukan pengawasan/penjagaan sampai pagi," tuturnya

Pada pukul 06.45 Wita, petugas tiba di Dusun Manggalapi, yang berjarak 8 km. Selanjutnya, pada pukul 10.30 Wita, petugas melanjutkan perjalanan bersama-sama warga menuju rumah Kepala Dusun Hermes, kemudian petugas memindahkan kotak suara ke lokasi TPS untuk dilakukan pemeriksaan surat suara oleh anggota KPPS.

"Kurang lebih pukul 14.00 Wita, pencoblosan surat suara mulai berlangsung sampai pukul 18.30 Wita. Selama dalam proses pencoblosan, kami melaksanakan pengamanan sesuai dengan SOP," tuturnya.

Penghitungan suara berlangsung hingga Kamis (18/4) pukul 12.00 Wita. Petugas kembali ke Kecamatan Palolo dan tiba-tiba petugas terhalang oleh derasnya hujan sehingga diputuskan untuk tidak berangkat karena mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

"Keesokan paginya, pada Jumat, 19 April 2019, pukul 07.00 Wita, setelah kami dilengkapi bekal makanan yang disediakan oleh warga Dusun Manggalapi, petugas berpamitan dan melanjutkan perjalanan kami untuk kembali ke Kecamatan Palolo," tandasnya.


(mei/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed