DetikNews
Minggu 21 April 2019, 18:25 WIB

Hore! Festival Lembah Ijen Digelar Tiap Bulan di Gandrung Terakota

Raras Prawitaningrum - detikNews
Hore! Festival Lembah Ijen Digelar Tiap Bulan di Gandrung Terakota Foto: dok Kemenpar
Jakarta - Festival Lembah Ijen 2019 sukses menghibur wisatawan. Festival yang menampilkan pertunjukan Sendratari Meras Gandrung ini juga dimeriahkan oleh kegiatan jam session bersama Bintang Indrianto dan Denny Chasmala serta syukuran panen padi Slametan Pecel Pitik & Kebo-Keboan.

Festival yang digelar di Taman Gandrung Terakota di kawasan Jiwa Jawa Resort, Banyuwangi, pada Sabtu (20/4/2019) menceritakan prosesi penari untuk menjadi seorang gandrung profesional yang tidak hanya menari, tetapi juga piawai menjadi sinden.

Pertunjukan ini mengambil latar belakang zaman kolonial Belanda dan dimainkan seniman asli Banyuwangi dari berbagai usia. Mulai anak-anak usia 7 tahun hingga orang tua usia 60 tahun lebih. Uniknya, lokasi pertunjukan ini berdiri di atas hamparan sawah produktif seluas 3 hektare di lereng Gunung Ijen.


Penggagas Festival Lembah Ijen sekaligus pemilik Jiwa Jawa Resort, Sigit Pramono, menjelaskan acara ini akan menjadi sebuah daya tarik baru pariwisata. Bahkan turut mencanangkan kawasan Lembah Ijen sebagai kawasan pelestarian seni budaya Banyuwangi.

"Sekaligus mendukung kawasan ini menjadi sebuah situs geopark yang serasi antara alam dan manusia yang tinggal dan hidup di dalamnya," kata Sigit dalam keterangan tertulisnya, Minggu (21/4/2019).

Pementasan sendratari, lanjut Sigit, akan diagendakan lebih sering mulai dari sebulan sekali bisa menjadi seminggu sekali. Pertunjukan berikutnya digelar pada 18 Mei, 15 Juni, 20 Juli, 17 Agustus, 14 September, 12 Oktober, 16 November, dan 14 Desember 2019.

"Animo masyarakat yang datang Gandrung Terakota dan menyaksikan sendratari mulai tumbuh, meski sendratari ini berbayar. Sejak Oktober 2018, sudah ada 10 ribu orang yang bertandang kemari," jelasnya.

Menurutnya, antusiasme tersebut sangat bagus bagi perkembangan kesenian daerah karena menunjukkan masyarakat mulai menghargai seni daerah. Dampaknya juga akan kembali kepada pelaku seni. "Seni tidak hanya untuk ditampilkan, namun seni juga harus menghidupi pelakunya dan di Banyuwangi ini sudah mulai berkembang," ucapnya.

Sigit juga mengatakan Gandrung Terakota memang dikonsep sesuai pendekatan pembangunan kawasan. Situs Gandrung Terakota ini dibangun sebagai upaya merawat dan meruwat yang merupakan salah satu identitas Banyuwangi, yakni Tari Gandrung.

"Jenis tarian ini mengalami pasang-surut kehidupan yang dinamis. Bermula sebagai tari persembahan dari masyarakat agraris kepada Dewi Sri, yang juga dikenal sebagai Dewi Kesuburan atau Dewi Padi, menjadi tarian pergaulan dan kemudian menjadi salah satu ikon kesenian Banyuwangi," papar sigit.

Usai panen, kata Sigit, masyarakat petani terbiasa bersukacita menari dan menyanyi sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen. Maka di kawasan persawahan dibangun situs Taman Gandrung Terakota (Terracotta Dancers) berupa ratusan patung terakota berwujud penari Gandrung yang tersebar di sekitar persawahan.

Baginya, mengkreasi karya terakota berbentuk penari gandrung merupakan upaya merawat bumi. Dikatakannya, Gandrung Terakota menjadi suatu monumen kehidupan yang organik yang memiliki narasi penting bagi masyarakat sekitarnya, ikon daerah, sekaligus berpotensi menginspirasi bagi banyak orang.

"Jika monumen yang sifatnya gigantik menjulang ke langit sudah dibangun di banyak tempat dan dianggap sebagai kelaziman, di situs ini justru kebalikannya. Di sini monumen ratusan patung tembikar itu lebih membumi," ujarnya.

Sigit mengungkapkan seperti halnya praktik kebudayaan, berkarya terakota tidak bertujuan untuk menciptakan bentuk yang abadi atau kekal. Sebab, memang bersifat ringkih, mudah retak, patah, atau bahkan hancur.

"Justru itulah makna dan nilai yang ditawarkan, kesenian dan ketidakabadian karena yang abadi adalah proses, makna, dan nilai-nilai yang melekat di dalamnya. Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa yang abadi adalah siklus kehidupan, terus-menerus berada dalam proses," katanya.

Maka ia yakin pembangunan kawasan ini mampu membangun kawasan dan situs yang membawa manfaat. Baik secara ekonomi maupun dalam aspek budaya. Apalagi hamparan sawah di sekitar situs tetap dibiarkan berfungsi sebagai sawah, yang digarap oleh petani yang sama.

Di halaman depan pendopo, ada patung kerbau yang dipresentasikan secara urutan, dari sosok kerbau yang utuh hingga bentuk sebagian badan kerbau yang terbenam dalam pangkuan bumi. Sementara itu, di sudut kanan amphitheatre, ada instalasi seni Dewi Sri yang menitis menjadi penari gandrung.

"Karya ini dimaksudkan sebagai refleksi kritis terhadap perubahan zaman, owahing zaman, kemajuan yang menggusur tradisi dan kearifan lokal. Inilah Taman Gandrung Terakota, sebuah 'situs rawat ruwat' seni budaya,dalam suatu kawasan Jiwa Jawa Ijen," pungkasnya.


Sementara itu, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan Festival Lembah Ijen murni prakarsa kebudayaan yang dipersembahkan oleh masyarakat setempat.

"Selain untuk promosi kearifan lokal warga setempat, festival ini juga untuk melestarikan kebudayaan Banyuwangi, terutama gandrung, yang kini telah digandrungi masyarakat," katanya.

Selain sendratari, Festival Lembah Ijen juga dimeriahkan dengan acara Klinik Jazz yang menghadirkan musisi jazz nasional Bintang Indrianto. Bertajuk Road To Jazz Gunung Ijen, setiap bulan Bintang akan melatih pelajar SMA sekaligus mencari musisi jazz muda berbakat dari Banyuwangi.
(ega/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed