DetikNews
Jumat 19 April 2019, 20:32 WIB

Uskup Agung Jakarta: Selesaikan Konflik Pemilu dengan Cara Berhikmat

Rolando - detikNews
Uskup Agung Jakarta: Selesaikan Konflik Pemilu dengan Cara Berhikmat Foto: Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo (Rolando/detikcom)
Jakarta - Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo mengatakan, perayaan Paskah 2019 mengangkat tema 'Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat'. Lewat tema ini, dia berharap masyarakat Indonesia, khususnya umat Khatolik, bisa merawat persatuan agar bangsa makin bermartabat.

Ignatius menjelaskan, salah satu wujud dari berhikmat adalah, kembali pada dasar bahwa bangsa Indonesia mempunyai sejarah yang mempersatukan. Ada banyak contoh yang dia sebut, salah satunya Sumpah Pemuda.

"Jadi sejarah bangsa kita dari awal sampai sekarang itu dalam sejarah yang mempersatukan, itulah hikmat. Maka siapapun kita kalau dipanggil untuk merawat persatuan itu dan mengembangkannya, supaya bangsa kita semakin bermartabat," katanya saat diwawancarai wartawan usai misa Jumat Agung di Gereja Katedral Jakarta, Jl Sawah Besar, Jakarta Pusat, Jumat (19/4/2019).


Ignatius kemudian mengaitkannya dengan Pileg dan Pilpres 2019 yang dilaksanakan 17 April 2019. Dia bercerita, dirinya sangat senang ketika mengikuti pencoblosan.

"Karena apa? Karena orang-orang, saudara kita, yang mau menggunakan hak suaranya mencoblos itu ndak ada yang wajahnya tegang. Semuanya kelihatan gembira, kelihatan merdeka. Demikian juga para petugas TPS bagi saya sangat bagus, profesional, disiplin, dan simpatik. Pesta (demokrasi) itu, kegembiraan itu, saya harap terus berlangsung di dalam langkah tahap selanjutnya sesudah mencoblos," ujarnya.

Memang, lanjut Ignatius, dalam sebuah kompetisi pasti ada yang kalah dan menang. Bahkan, tidak menutup kemungkinan ada konflik. Namun dia mengingatkan bahwa itu sudah pasti diantisipasi oleh pemerintah. Penyelesaiannya tentu lewat jalur yang konstitusional.

"Dengan Undang-Undang Pemilu misalnya. Semuanya itu menjaga supaya konflik-konflik itu diselesaikan dengan cara berhikmat, dengan cara obyektif. Karena undang-undang itu justru menjaga obyektivitas. Nah kalo yang mau keluar dari undang-undang, itu bukan obyektifitas lagi kan," jelasnya.

"Saya yakin pelan-pelan saya pikir rekonsiliasi itu akan terjadi. Saya kira, bangsa Indonesia itu seperti yang tadi saya katakan, mempunyai watak yang dikagumi oleh bangsa-bangsa lain. Yaitu setiap konflik dapat diselesaikan dengan baik. Membutuhkan waktu, tetapi saya merasa itukah watak dasar dari bangsa Indonesia," ujarnya.


Terkait adanya klaim-klaim kemenangan di Pilpres 2019 meski belum ada hasil resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), Ignatius meyakini masyarakat para tataran akar rumput tidak memikirkan hal tersebut. Dia yakin semua akan tenang menanti hasil final dari lembaga yang sah, yakni KPU.

Meski demikian, dia berharap agar para pemimpin dan tokoh ikut menjaga suasana kondusif. Siapapun nanti yang diumumkan jadi pemenang di Pilpres 2019, semua pihak harus menerima dengan hati yang lapang.

"Nanti kalau KPU sudah mengumumkan siapa pemenangnya, ya musti diterima dengan hati yang lapang. Karena semuanya sudah melalui proses yang disetujui bersama. Jadi bukan dipaksakan, tetapi proses yang disetujui bersama dan pengawalannya dirumuskan di dalam undang-undang. Undang-undang kan tidak dibuat perseorangan, undang-undang kan disahkan oleh pemerintah dan DPR. Itu sudah disetujui. Jadi ikuti saja, karena undang-undang itu menjaga obyektivitas," ucapnya.
(hri/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed