DetikNews
Kamis 18 April 2019, 20:16 WIB

Suara Partai Merosot, PPP: Lumbung Suara Dihabisi

Yulida Medistiara - detikNews
Suara Partai Merosot, PPP: Lumbung Suara Dihabisi Suharso Monoarfa (Arif Syaefudin/detikcom)
Jakarta - Plt Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa mengakui adanya penurunan suara partainya pada Pemilu 2019. Dia menduga ada pihak yang sengaja menghabisi lumbung suara PPP.

"Memang mengejutkan. Termasuk kita dihabisin di daerah lumbung suara kita. Saya nggak tahu apa yang kita alami di lumbung suara kita. Saya nggak tahu tsunami apa yang kita alami di lumbung suara kita. Dan saya kira itu money politics luar biasa," kata Suharso di Plataran Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (18/4/2019).



PPP pada Pemilu 2014 mendapat suara 6,53 persen. Sementara itu, pada pemilu tahun ini, berdasarkan hasil hitung cepat sementara, PPP meraih suara 4,49 persen.

Suharso menyebut lumbung suara PPP adalah Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Dia menilai ada pihak yang menggembosi suara PPP dengan memanfaatkan kasus mantan ketumnya Romahurmuziy (Rommy).

"Banyak kan kami di lumbung suara kami itu kan di mana 02. Mungkin kita semacam diadili oleh mereka. Entah black campaign segala macam termasuk kasusnya Saudara Rommy, jadi titik masuk buat mereka," ujarnya.

Ia mengaku akan berupaya mengkonsolidasikan kembali pendukung PPP di daerah lumbung suaranya.

"Kita memang harus bentuk kembali tempat-tempat itu. Tetapi sudah kejadian, mau diapain? Tadinya kami pikir itu nggak akan terganggu sama sekali, tapi begitu masif, terstruktur ke bawah. Bukan hanya PPP ya, tapi yang bersama sama PDIP di wilayah itu juga dihajar," imbuhnya.

Bukan hanya itu. Penyebab lainnya, menurut Suharso, partainya masih melekat dicap sebagai pendukung penista agama dampak dari Pilkada DKI. Ia mengaku akan mencari tahu penyebab suaranya menipis di daerah lumbung suara.

"Jakarta kan sebenarnya kita ini 3 kursi, tapi tetap masih melekat partai penista agama dimainkan terus oleh mereka 02. Jadi saya ingin mengatakan bahwa sampai segitunya gitu lo kebencian dirasukkan kepada publik. Itu kan salah. Ya tapi kita akan berhitung kepada mereka dan kita bisa tahu siapa yang sebenarnya sedang menggantang asap," sambungnya.
(yld/idn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed