detikNews
Selasa 16 April 2019, 08:09 WIB

Cerita Seru 3 Polisi Bali Jadi Pasukan Perdamaian PBB di Sudan

Aditya Mardiastuti - detikNews
Cerita Seru 3 Polisi Bali Jadi Pasukan Perdamaian PBB di Sudan Brigadir I Putu Brahma, Iptu I Made Martadi Putra, dan Brigadir Nengah Anggar Setiawan berbagi cerita usai bertugas 14 bulan di Sudan sebagai pasukan perdamaian PBB.Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom
Denpasar - Raut wajah gembira terpancar dari wajah Brigadir I Putu Brahma, Iptu I Made Martadi Putra, dan Brigadir Nengah Anggar Setiawan saat ditemui di Polda Bali. Ketiganya baru saja kembali ke Bali setelah bertugas selama 14 bulan di Sudan, Afrika sebagai anggota pasukan perdamaian PBB.

Ketiganya merupakan gelombang ke-10 Formed Police Unit United Nations Hybrid Operation in Darfur (FPU UNAMID) yang bertugas di Sudan. Mereka baru selesai melapor jika telah kembali usai bertugas selama 14 bulan di Sudan.



"Kami bergabung dengan 140 seluruh pasukan dari Polri. Namanya, FPU Indonesia tugas kami di sana untuk tugas operasional sehari-hari pengawalan pejabat PBB di sana, patroli dan pengamanan zone warden area," kata Made saat berbincang di lobby Mapolda Bali, Jl WR Supratman, Denpasar, Bali, Senin (15/4/2019).

Made menuturkan konflik Sudan merupakan konflik horizontal antarmasyarakat. Di sana, tim FPU UNAMID turut membantu berbagi pengalaman untuk polisi di Sudan.

"Itu konfliknya horizontal, antarsuku di sana. Jadi masalah antara warga asli Afrika dengan Afrika keturunan tapi sekarang sudah tahap peace building. Kami yang membantu polisi lokal di sana untuk ibaratnya biar jadi profesional lah di sana. Kami jadi ngajar-ngajar juga," tuturnya.

Salah satu yang menjadi tugas ketiganya yaitu pengawalan pejabat PBB ke lokasi. Tak hanya pengamanan mereka juga membawa misi kebudayaan.

"Nah, setiap pejabat New York datang kami yang pasukan jajar hormat, pengawalan di depan. Kepala polisi UN PBB juga sempat datang kami yang ngawal, banyak sih kegiatannya bahkan kami juga bawa misi kebudayaan tari-tarian, makanan juga, tari Indang Sumatera Barat, Dayak juga kami bawa ke sana," terang Made.

"Kalau dari Bali kami paling dekorasi saja, makan malam kami yang mendekor. Kalau masak kami nggak," cetusnya.

Kondisi geografis Sudan yang sangat berbeda dengan Bali jadi salah satu hal yang tak bisa mereka lupakan. Selain itu, masalah bahasa juga jadi kendala mereka berinteraksi dengan warga lokal.

"Kalau di sana yang bikin kita terkejut pertama lingkungannya sih padang pasir di mana-mana, terus cuacanya panas, kering, ya itu bahasa pasti. Kalau bahasa inggris kami dipakai tugas official sama pejabat PBB, tapi sama penduduk kami pakai bahasa Arab untuk say hello," ujar Made.

"Paling susah bahasa Arab, terus pakai bahasa tubuh. Hahaha, tapi ada anak yang bisa bahasa Indonesia dia yang kami suruh," imbuh Brahma.

Selama 14 bulan bertugas bukan berarti ketiganya tak pernah galau ataupun rindu ke tanah air. Berkomunikasi dengan keluarga pun kadang jadi pengobat rindu.

"Kalau sudah kangen biasa video call meski sinyal masih sering putus-putus juga. Apalagi saat ini lagi ada konflik sama pemerintah pusat, presiden baru dikudeta, dulu awal-awal dia didemo media sosial diblok, WA, IG, FB, Youtube, jadi kami nggak bisa buka-buka lagi. Sekitar dua bulan (ditutup) deket-deket waktu pulang sih," tutur Made.

"Paling kutak-katik VPN," sambung Brahma.

Kini usai selesai bertugas di Sudan, baik Anggar, Brahma, dan Made, bakal kembali ke pos masing-masing. Anggar bakal kembali bertugas di Polres Karangasem, Brahma di Satbrimob Polda Bali, dan Made di Biro Operasi Polda Bali.
(ams/aan)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com