DetikNews
Kamis 11 April 2019, 13:55 WIB

KPU Sebut Hoax 7 Kontainer Surat Suara Tercoblos Bentuk Provokasi

Faiq Hidayat - detikNews
KPU Sebut Hoax 7 Kontainer Surat Suara Tercoblos Bentuk Provokasi Kepala Biro (Karo) Hukum Setjen KPU Sigit Joyowardono bersaksi dalam sidang kasus hoax 7 kontainer surat suara tercoblos di PN Jakpus, Kamis (11/4/2019) (Faiq Hidayat/detikcom)
Jakarta - Kepala Biro (Karo) Hukum Setjen KPU Sigit Joyowardono menyebut informasi hoax 7 kontainer surat suara tercoblos merupakan bentuk provokasi ke masyarakat. Informasi hoax itu juga bisa menimbulkan ketidakpercayaan terhadap KPU.

"Ini bentuk provokasi ke masyarakat sehingga masyarakat yang menelan mentah-mentah, kemudian tidak memberikan kepercayaan kembali kepada KPU selaku penyelenggara pemilu," kata Sigit saat bersaksi dalam sidang terdakwa hoax 7 kontainer surat suara tercoblos, Bagus Bawana Putra, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl Bungur Besar Raya, Kamis (11/4/2019).

Bagus Bawana didakwa menyebarkan hoax tentang 7 kontainer berisi surat suara yang telah tercoblos di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bagus didakwa menyebarkan hoax itu melalui media sosial (medsos) dan grup aplikasi perpesanan WhatsApp.





Menurut Sigit, saat itu surat suara Pemilu 2019 belum dicetak oleh KPU. Informasi surat suara sudah dicoblos beredar di berbagai media sosial pada 2 Januari 2019.

Padahal KPU akan memproses cetak surat suara mulai 16 Januari hingga 24 Maret 2019. Karena itu, ia menyebut tidak ada surat suara yang beredar dan sudah dicoblos pasangan capres tertentu.

"Kemudian proses pencetakan surat suara diawali 16 Januari 2019 sampai 24 Maret 2019, sehingga rasanya tidak pas ada surat suara sudah tercoblos," jelas dia.





Sigit mengetahui informasi hoax itu dari pesan singkat yang beredar di grup whatsApp KPU. Selain itu, ada suara rekaman pesan yang beredar diduga berisi suara Bagus Bawana Putra.

Atas beredarnya rekaman dan pesan singkat tentang 7 kontainer surat suara tercoblos, pimpinan KPU langsung meninjau lokasi di Tanjung Priok. Namun saat mereka berada di sana, tidak ditemukan kontainer yang dimaksud.

"Setelah dicek ternyata tidak ada. Itu kemudian menjadi dasar kami bawa ke penegak hukum," tutur dia.
(fai/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed