DetikNews
2019/04/10 07:41:09 WIB

Round-Up

Runutan Cerita di Balik Viral #JusticeForAudrey

Tim detikcom - detikNews
Halaman 2 dari 2


Eka mengatakan pengeroyokan ini berpangkal dari masalah pria. Korban A memiliki sepupu berinisial P. Mantan pacar P kemudian pacaran dengan D, tapi masih sering berhubungan dengan P sehingga D emosional. Masalah ini berlanjut ke media sosial.

"Korban A ini sering nimbrung dan komentar di medsos. Ini ternyata memancing emosi pelaku," ujar Eva.



5. Kasus tetap berlanjut

KPPAD tidak pernah menyarankan agar kasus ini diselesaikan secara damai atau kekeluargaan. "Kami tidak ada menyarankan untuk damai. Yang salah tetap salah, diproses sesuai aturan hukum," kata Ketua KPPAD Kalbar Eka Nurhayati Ishak.

Penegasan Eka ini sekaligus untuk menepis kabar di media sosial bahwa kasus pengeroyokan siswi SMP ini akan diselesaikan secara damai. Eka juga menjelaskan awal mula KPPAD terlibat mendampingi siswi SMP korban pengeroyokan. Pada 5 April 2019, korban A dan orang tuanya melapor ke KPPAD Kalbar. Sehari sebelumnya, korban lebih dahulu mengadu ke Polsek Pontianak Selatan.



"Tanggal 4 mereka melapor ke Polsek Pontianak Selatan. Dari situ ada ide mediasi, tanggal 5 jam 14.00, Polsek Pontianak Selatan minta korban datang ke Polsek ketemu dengan pelaku untuk mediasi untuk kekeluargaan. Nah, kami tidak tahu hal itu, kami tahu dari korban. Lo kok mediasi," paparnya.

"Kami hadir untuk mendampingi korban. Setelah diketahui seperti ini, tidak bisa, tidak bisa jalurnya begini. Harus beri efek pembinaan dan jera kepada pelaku," tegas Eka.



Hal senada juga disampaikan oleh ibunda A, Lilik. Keluarga A menegaskan ingin kasus terus berlanjut dan bukan berakhir damai.

"Saya tidak mau damai, saya mau lanjutkan agar pelaku dapat efek jeranya," kata ibunda A, Lilik, saat dihubungi.

6. Kondisi terkini A

Lilik mengatakan A sebenarnya adalah anak yang ceria. Tetapi kasus ini membuat putrinya itu jadi trauma.

"A saat ini masih di rumah sakit. Keadaan psikologisnya masih traumatik, masih terganggu fisiknya. Alhamdulillah lebam-lebamnya berkurang. Tapi masih sesak napas kalau dia mikir orang-orang itu karena dia ada asma," ujar Lilik.

Dia menceritakan, A awalnya tidak langsung bercerita ketika dikeroyok pada 29 Maret 2019. Hingga pada 3 April 2019, Lilik mengetahui A muntah-muntah dan baru bercerita. Dia lalu mengadu ke polisi pada 5 April 2019.

Saat diperiksa oleh salah satu dokter, A sempat bercerita soal terduga pelaku berusaha menggapai alat kelaminnya. Lilik pun meminta dokter melakukan pengecekan. "Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa," ucapnya.



7. A ingin cepat sembuh

A masih mengalami trauma gara-gara penganiayaan yang dilakukan siswi SMA di kotanya. Tapi A punya semangat kuat untuk sembuh. Saat dihubungi, ibunda A, Lilik, meneruskan telepon ke A, yang saat ini masih dirawat di rumah sakit. A berterima kasih atas doa dan dukungan kepadanya.

"Iya, makasih (doanya). Amin (cepat sembuh). Doain A cepat sembuh, ya," kata A lewat telepon.



Tonton video Tuntut Keadilan, #JusticeForA Trending Topik Dunia:

[Gambas:Video 20detik]


(imk/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed