DetikNews
Minggu 07 April 2019, 09:03 WIB

Soal Akun Facebook Antonio Banerra, BPN Singgung Elektabiltas Jokowi

Mochamad Zhacky - detikNews
Soal Akun Facebook Antonio Banerra, BPN Singgung Elektabiltas Jokowi Foto: Juru Debat BPN Riza Patria (Lamhot Aritonang)
Jakarta - Pemilik akun Facebook Antonio Banerra, Arif Kurniawan Radjasa, ditangkap karena menyebar hasutan terulangnya kerusuhan 1998 jika Prabowo Subianto menjadi presiden. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi mengatakan calon presidennya adalah sosok yang menghargai perbedaan.

"Prabowo sangat menghargai perbedaan, etnis manapun kita hormati, kita beri tempat yang baik, terhormat di republik ini. Semua agama kita naungi bersama di republik ini. Prabowo-Sandi tidak diragukan lagi Pancasila," kata juru debat BPN Prabowo-Sandi, Ahmad Riza Patria saat dihubungi, Minggu (7/4/2019).


Sebelumnya polisi menangkap pemilik akun Antonio Banerra karena memposting narasi ajakan memilih Prabowo agar kerusuhan 1998 dapat terulang. Postingan tersebut dinilai meresahkan karena menyebut jika Prabowo menang maka pemerkosaan terhadap perempauan etnis Tionghoa akan terjadi seperti tahun 1998.

"Betul, harus ditangkap orang seperti itu. Orangnya yang seperti itu, siapapun yang tidak benar harus dihukum, ditangkap. Kita tidak mentolerir bentuk-bentuk, cara-cara seperti itu karena itu merugikan kami," ujar Riza.


Riza menduga isu kerusuhan 1998 kembali dimunculkan di media sosial oleh orang-orang yang berseberangan dengan pihaknya karena panik elektabilitas Jokowi disalip Prabowo.

"Jadi ini ke publik sudah semakin kacau. Apalagi Jokowi nggak naik suaranya, makin turun. Ya jadi segala cara dilakukan, termasuk Facebook seperti tadi, itu bukan dari kami, bukan dari Prabowo-Sandi. Bahkan beliau menyampaikan dia akan berada di garda terdepan untuk membela Pancasila," tutur Riza.

"Jadi sekarang karena panik, dibuatlah berita-berita yang seperti tadi itu. Bagian dari kerja-kerja orang-orang yang ingin merusak citra Prabowo-Sandi," sambung Riza.

Pemiluk akun Facebook Antonio Banerra, Arif Kurniawan Radjasa, ditangkap karena menyebar hasutan terulangnya kerusuhan 1998 jika Prabowo Subianto menjadi presiden. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi mengatakan calon presidennya adalah sosok yang menghargai perbedaan.

"Prabowo sangat menghargai perbedaan, etnis manapun kita hormati, kita beri tempat yang baik, terhormat di republik ini. Semua agama kita naungi bersama di republik ini. Prabowo-Sandi tidak diragukan lagi Pancasila," kata juru debat BPN, Ahmad Riza Patria saat dihubungi, Minggu (7/4/2019).


Sebelumnya polisi menangkap pemilik akun Antonio Banerra karena memposting narasi ajakan memilih Prabowo agar kerusuhan 1998 dapat terulang. Postingan tersebut dinilai meresahkan karena menyebut jika Prabowo menang maka pemerkosaan terhadap perempauan etnis Tionghoa akan terjadi seperti tahun 1998.

"Betul, harus ditangkap orang seperti itu. Orangnya yang seperti itu, siapapun yang tidak benar harus dihukum, ditangkap. Kita tidak mentolerir bentuk-bentuk, cara-cara seperti itu karena itu merugikan kami," ujar Riza.

Riza menduga isu kerusuhan 1998 kembali dimunculkan di media sosial oleh orang-orang yang berseberangan dengan pihaknya karena panik elektabilitas Jokowi disalip Prabowo.

"Jadi ini ke publik sudah semakin kacau. Apalagi Jokowi nggak naik suaranya, makin turun. Ya jadi segala cara dilakukan, termasuk Facebook seperti tadi, itu bukan dari kami, bukan dari Prabowo-Sandi. Bahkan beliau menyampaikan dia akan berada di garda terdepan untuk membela Pancasila," tutur Riza.

"Jadi sekarang karena panik, dibuatlah berita-berita yang seperti tadi itu. Bagian dari kerja-kerja orang-orang yang ingin merusak citra Prabowo-Sandi," sambung Riza.


Saksikan juga video "Polisi Tangkap Antonio Banerra, Penghasut Terulangnya Rusuh '98":

[Gambas:Video 20detik]


(aud/zak)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed