DetikNews
Senin 01 April 2019, 22:07 WIB

Pemilik Rekening Terkait Dugaan Penipuan CPNS Jadi Saksi Sidang Bonaran

Abdi Somat Hutabarat - detikNews
Pemilik Rekening Terkait Dugaan Penipuan CPNS Jadi Saksi Sidang Bonaran Sidang lanjutan Bonaran Situmeang di PN Sibolga, Senin (1/4/2019). (Abdi Somat/detikcom)
Sibolga -

Farida Hutagalung, pemilik rekening yang disebut jaksa terkait transaksi dugaan penipuan CPNS, menjadi saksi dalam sidang lanjutan mantan Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumut, Bonaran Situmeang. Farida mengaku tak tahu-menahu perihal penggunaan rekening miliknya terkait perkara.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Sibolga, Farida mengaku tidak mengenal Bonaran Situmeang. Dia juga tidak mengenal pelapor dalam kasus dugaan penipuan CPNS, yakni Happy Rosnani Sinaga dan suaminya, Efendy Manurung.

Farida menjelaskan rekening miliknya dipinjam oleh Mardi Gunawan (almarhum) lewat komunikasi dengan mantan ajudan Bonaran saat menjabat bupati, Joko--adik ipar Farida. Tapi Farida tak tahu belakangan rekeningnya diduga menjadi sarana transaksi dalam kasus dugaan penipuan CPNS.



"Yang saya tahu, rekening saya dipakai sebagai jaminan melunasi utang saya kepada Mardi saat itu sebesar Rp 50 juta. Adik ipar saya (Joko) menyetujuinya, karena menganggap Mardi sudah dikenal lama oleh dia," kata Farida dalam persidangan, Senin (1/4/2019).

Dia juga tak tahu soal transaksi uang lewat rekeningnya hingga akhirnya mendapat penjelasan saat diperiksa di Polda Sumut.

Tapi Farida mengaku melakukan penarikan uang tunai dari rekening tersebut. Uang diserahkan kepada Mardi.

"Hari itu dikirim, ya hari itu kami tarik dan hari itu juga saya serahkan kepada Pak Mardi. Penyerahannya di bank itu sendiri. Kami ke bank hanya bertiga, Joko, Pak Mardi, dan saya sendiri. Tidak pernah saya menyerahkannya ke Pak Bonaran. Kadang saya ikut menarik, kadang juga tidak, karena buku rekening dan kartu ATM-nya saya serahkan ke Pak Mardi semua," ungkap Farida.

Farida tak pernah curiga soal transaksi dalam rekeningnya. Sebab, Farida mempercayai Mardi, yang selama ini menjadi partner dalam perusahaan konstruksi.

Namun ditegaskan Farida, dia tidak pernah berkomunikasi dengan Bonaran. Sedangkan Bonaran, seusai persidangan, menegaskan tidak mengenal Farida. Dia juga tidak pernah berurusan dengan Mardi Gunawan, termasuk untuk urusan CPNS.

"Sudah kalian lihat sendiri kan bagaimana pernyataan saksi, tidak ada yang mengarah kepada saya. Kalau soal rekening, ya itu urusan mereka, bukan saya, gitu lo," kata Bonaran.

Jaksa mendakwa Bonaran Situmeang melakukan penipuan terhadap CPNS Kabupaten Tapanuli Tengah. Bonaran juga didakwa melakukan tindak pidana.

Dalam dakwaan dipaparkan, Bonaran meminta Happy Rosnani Sinaga dan suaminya, Effendy Marpaung, mencari orang yang ingin menjadi PNS. Tapi mereka disyaratkan membayar uang pengurusan Rp 165 juta untuk lulusan sarjana dan Rp 135 juta untuk lulusan D3.

Happy dan suaminya lantas membawa delapan orang yang berminat menjadi CPNS. Duit total Rp 1,24 miliar juga diserahkan Happy dan suaminya.

Uang tersebut diserahkan secara bertahap, yakni pada 29 Januari 2014 sebesar Rp 570 juta, yang diserahkan di rumah dinas Bonaran, Rp 120 juta pada 30 Januari 2014 yang dikirim lewat rekening atas nama Farida Hutagalung.

Tahap ketiga pada 3 Februari 2014 sebesar Rp 500 juta, yang dikirim ke rekening atas nama Farida Hutagalung. Sedangkan tahap keempat pada 17 Agustus 2014 diserahkan sebesar Rp 50 juta tanpa kuitansi.

Tapi menurut jaksa, kedelapan orang yang menyetor uang tak lulus menjadi PNS Tapteng.

Jaksa mendakwa Bonaran dengan Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan dan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan. Selain itu, Bonaran didakwa dengan UU RI Nomor 8 /2010 Pasal 4 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.




(fdn/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed