detikNews
Senin 01 April 2019, 18:13 WIB

PUPR Soroti Apartemen Menengah ke Bawah Tak Maksimal Pelihara Gedung

Eva Safitri - detikNews
PUPR Soroti Apartemen Menengah ke Bawah Tak Maksimal Pelihara Gedung Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR Syarif Burhanuddin memaparkan soal pemeriksaan gedung-gedung di DKI. (Eva/detikcom)
Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyoroti gedung apartemen kelas menengah ke bawah. PUPR mengatakan apartemen dengan harga yang tergolong murah tidak maksimal pemeliharaannya.

"Kalau ekonomi bagus yang tinggal di situ, maka relatif pengelola juga bagus. Karena pembayaran tinggi berarti servis juga tinggi kan, ada service fee. Tapi gedung yang ekonomi menengah ke bawah yang tinggal itu cenderung pembayarannya tidak terlalu besar. Akibatnya, pemeliharaannya pun tidak maksimal. Nah, ini dua hal yang kontradiksi yang perlu juga menjadi perhatian," ujar Dirjen Bina Konstruksi Syarif Burhanuddin di gedung Kementerian PUPR, Jakarta Selatan, Senin (1/4/2019).


Menurut dia, semestinya pengelola gedung tak hanya melihat aspek sisi finansial pembayaran dari konsumen. Namun pengelolaan gedung harus patuh pada aturan awal.

"Bukan dari sisi berapa bayarnya, tapi dari bagaimana melihat kondisi bangunan tadi, dan masyarakat yang menengah ke bawah, kan clear sebenarnya di Jakarta ini kelihatan sekali," ucapnya.

Syarif mencontohkan salah satu contoh apartemen yang termasuk dalam kategori menengah ke bawah, yaitu Apartemen Rajawali di kawasan Jakarta Utara. Apartemen itu kini menjadi target pemeriksaan awal Komite Keselamatan Konstruksi Kementerian PUPR bersama Pemda DKI dan lembaga terkait.

"Seperti yang diperiksa Apartemen Rajawali. Seperti yang sekarang diperiksa kan itu menengah ke bawah. Itu yang paling banyak komplain di koran-koran soal pengelolaannya," paparnya.

Kementerian PUPR berencana memeriksa semua gedung di DKI Jakarta dengan kriteria yang sudah berusia 8 tahun atau lebih. Tercatat gedung yang termasuk dalam kriteria tersebut ada 632 unit berupa apartemen, perkantoran, dan pusat belanja.

"Gedung perkantoran jumlahnya 408 unit. Pusat perbelanjaan 224 (unit) di atas 10 tahun," tutur Syarif.



Simak Juga 'Menyusuri Bandung Creative Hub yang Diterpa Isu Pungli dan Kini Sepi':

[Gambas:Video 20detik]


(eva/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed