DetikNews
Kamis 28 Maret 2019, 10:49 WIB

Sebelum Membunuh, Dosen UNM Ngeluh ke Korban soal Keuntungan Proyek

Muhammad Taufiqqurrahman - detikNews
Sebelum Membunuh, Dosen UNM Ngeluh ke Korban soal Keuntungan Proyek Wahyu, dosen UNM yang jadi tersangka pembunuhan Zulaiha di Gowa. (Foto: Istimewa)
Makassar - Dosen Universitas Negeri Makassar (UNM), Wahyu Jayadi, menjadi tersangka pembunuhan Zulaiha Djafar di dalam mobil di Gowa, Sulawesi Selatan. Keduanya diketahui bekerja sama dalam sebuah proyek di kampus UNM.

"Korban sering curhat kepada suami tentang pengadaan barang dan tersangka tidak puas dengan keuntungan yang diterimanya," kata Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga kepada detikcom, Kamis (28/3/2019).


Hal ini disampaikan Shinto setelah Polres Gowa memeriksa suami Zulaiha, Sukri, pada Rabu (27/3). Dikatakannya, proyek keduanya yang ditangani saat ini adalah soal sertifikasi guru SMA.

"Korban dan tersangka masuk dalam kepanitiaan kegiatan proyek di kampus UNM untuk sertifikasi guru-guru SMA," kata Shinto.

Kepada penyidik, Sukri juga menjelaskan, sebelum dibunuh, tidak ada perubahan sikap dari diri korban. Menariknya, tidak ada keluarga korban yang mengenal Wahyu.


"Orang tua dan saudara-saudara korban tidak mengenal tersangka," kata dia.

Sebelumnya, kondisi kejiwaan Wahyu telah diperiksa oleh psikiater RS Bhayangkara Makassar setelah membunuh Zulaiha Djafar. WJ pun membeberkan alasannya membunuh Zulaiha.

"Yang menarik, tersangka mengakui melakukan perbuatannya karena emosi dan tersinggung harga dirinya," kata Kepala RS Bhayangkara Makassar Kombes Farid Amansyah di Makassar, Selasa (26/3).

"Emosinya memuncak ketika korban menamparnya, dan sejurus kemudian tersangka mencekik hingga korbannya tewas," Imbuhnya.


Setelah membunuh Zulaiha, tersangka mengaku panik. Dia pun mengakui perbuatannya dengan merekayasa kejadian sesungguhnya.

"Namun akhirnya diakuinya kembali di depan penyidik tindakan tersebut. Jadi motifnya tersinggung dan harga diri," tegas Farid.

Dia menjelaskan, dari pemeriksaan oleh psikiater, WJ disebut dapat menjawab pertanyaan dengan baik dan runtut serta jelas. Tidak hanya itu, WJ disebut koperatif dengan tim pemeriksaan.

"Tim tidak dapat menjelaskan secara detail hasil pemeriksaan karena menyangkut ketentuan rahasia medis seseorang yang dijamin undang-undang kerahasiaannya, kecuali atas permintaan hakim atau pro justitia dapat disampaikan detailnya," terang dia
(tfq/dkp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed