detikNews
Selasa 26 Maret 2019, 15:49 WIB

Saruma Payungi Perbedaan di Bacan

Danu Damarjati - detikNews
Saruma Payungi Perbedaan di Bacan Foto ilustrasi: Rumah-rumah adat di Taman Budaya Saruma (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - Imperium Kesultanan Bacan yang berdiri sejak Abad ke-13 sudah dihuni oleh penduduk beragam suku. Pernah, keberagaman itu terusik oleh konflik berdarah. Namun Saruma menuntun mereka keluar dari gelapnya pertikaian Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA).

Teras BRI Kapal Bahtera Seva III membawa tim detikcom mengarungi laut dan mengunjungi pulau-pulau yang secara historis merupakan wilayah Kesultanan Bacan, yakni di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, 4 hingga 10 Maret 2019.

Sebanyak 227.260 manusia hidup di pulau-pulau yang tersebar di sini. Mereka terdiri dari beragam suku, yakni Bacan, Tobelo, Galela, Makian, Sula, Bajo, dan suku-suku pendatang seperti Gorontalo, Jawa, Madura, hingga Minangkabau. Mereka pun punya bahasa sendiri-sendiri namun bila berkomunikasi antar-suku mereka akan menggunakan Bahasa Melayu dialek Maluku Utara yang mereka sebut sebagai Bahasa Pasar.



M Adnan Amal dalam bukunya, 'Kepulauan Rempah-rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950', menjelaskan bahwa Kesultanan Bacan adalah satu-satunya kesultanan yang berpenduduk heterogen di antara kerajaan-kerajaan lainnya di wilayah Maluku Utara. Keadaan plural ini diakibatkan oleh sejarah kerajaan Bacan yang pernah berpindah-pindah pusat pemerintahan dari satu pulau ke pulau lainnya karena faktor gunung berapi Kie Besi dan pengaruh alam.

Saruma Payungi Perbedaan di BacanRumah adat Bacan (Danu Damarjati/detikcom)

"Tiap suku dipimpin kepalanya masing-masing dan menggunakan bahasanya sendiri-sendiri. Keadaan multi etnis ini diterima Kerajaan Bacan sebagai suatu hal yang wajar," tulis Adnan.

Kami menemui Jogogu (Perdana Menteri) Kesultanan Bacan, Datuk Alolong harmain Iskandar Alam, di keratonnya, Kelurahan Amasing Kota. Dia menceritakan perihal keberagaman di kawasan Kesultanan Bacan yang saat ini masuk sebagai wilayah administrasi Kabupaten Halmahera Selatan. Keberagaman ini pernah diuji tatkala kebencian bernuansa SARA mengoyak kepulauan Maluku pada 1999-2002.

"Saat itu Sultan Bacan kebetulan adalah Bupati Maluku Utara, yakni (Alm) Muhammad Gahral Adyan Syah," kata Harmain.



Kondisi saat itu, Pulau Bacan dilanda konflik antaragama. Banyak orang yang mengungsi meninggalkan rumah-rumah mereka ke luar pulau, misal pergi ke Manado hingga Maluku Tenggara. Sultan Gahral Adyan Syah kemudian bertekad menjamin keamanan usai wilayahnya dikecamuk kerusuhan berdarah. Para penduduknya yang telah jauh mengungsi diajaknya pulang ke rumah, karena Pulau Bacan ini adalah rumah mereka.

"Pulanglah orang-orang yang sudah mengungsi itu. Berkat pendekatan-pendekatan orang dari Kesultanan, maka dendam juga tidak ada. Saling memaafkan seperti kondisi sekarang ini," ujar Harmain.

Posisi Sultan yang selalu berada di tengah-tengah tanpa berat sebelah menentukan keberhasilan rekonsiliasi ini. Bahkan Presiden Megawati Soekarnoputri kala itu berani memilih Bacan sebagai tempat menginapnya, bukan memilih Ternate atau Tidore yang sama-sama punya keraton di lingkungan Maluku Utara.

Saruma Payungi Perbedaan di BacanJogogu Kesultanan Bacan, Datuk Alolong harmain Iskandar Alam (Agung Pambudhy/detikcom)

Netralitas posisi Kesultanan ini coba dipertahankan pada konteks sekarang. Soal posisi Pemilu 2019 misalnya, Sultan Bacan Alhajj Abdurrahim Muhammad Gary Dino Ridwan Syah tak memihak ke salah satu calon presiden atau partai. Meski begitu semua partai dipersilakannya untuk hadir ke tengah-tengah masyarakat, individu-individu kesultanan juga dibebaskan untuk berpolitik kepartaian.

"Tapi secara kelembagaan, Kesultanan tidak ada deklarasi dukung siapa-siapa. Keraton netral karena sebagai pengayom. Jadi kalau ada (risiko) apa-apa, maka Keraton akan mampu berada di tengah-tengah," kata Harmain.



Satu prinsip yang dijunjung tinggi orang-orang Bacan, yakni Saruma. Prinsip ini seakan menuntun masyarakat keluar dari konflik, menyatukan perbedaan-perbedaan suku hingga agama. Menyatukan bukan berarti menyeragamkan warna-warni kenyataan, melainkan berlaku layaknya rumah yang menaungi semua anggota keluarga.

"Kita ada prinsip Saruma, atau 'satu rumah'. Kalau satu rumah kan berarti isinya bersaudara semua, maka kita tidak bisa saling bermusuhan," kata Harmain.

Konsep saruma ini terus ditanamkan ke masyarakat hingga kini. Pemerintah Kabupaten menjadikan prinsip ini sebagai motto, bermakna, "Tekad segenap unsur masyarakat Kabupaten Halmahera Selatan untuk mewujudkan semangat kebersamaan, kerukunan hidup beragama dan bermasyarakat demi keutuhan dan kemakmuran Kabupaten Halmahera Selatan ke depan."

Saruma Payungi Perbedaan di BacanRumah-rumah adat di Taman Budaya Saruma (Agung Pambudhy/detikcom)

Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 menyampaikan lewat situsnya, Kesultanan Bacan pada masa lalunya punya sembilan persekutuan adat, disebut 'soa nang salapang'. Pada perkembangan ke depan, sembilan persekutuan adat ini melahirkan sembilan kecamatan dalam Halmahera Selatan yang heterogen. Kini tercatat ada 20 suku di kawasan ini, terdiri dari suku asli maupun pendatang.

"Masyarakat itu sudah hidup turun temurun," Sekretaris Daerah Kabuparen Halmahera Selatan, Helmi Surya Botutihe, saat ditemui di kantornya.

Terilhami dari prinsip saruma ini, pemerintah kemudian membangun Taman Budaya Saruma berisi rumah-rumah adat suku yang bermukim di kawasan ini. Taman Budaya Saruma berada di hutan karet peninggalan perusahaan Hindia-Belanda Baatjan Archipel Maatschappij (BAM). Rumah-rumah adat itu juga bisa disewa sebagai penginapan.

"Taman Budaya Saruma adalah prasasti perlambang hidup berdampingan secara damai," kata Helmi.

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di Ekspedisi Bahtera Seva.



(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed