DetikNews
Rabu 20 Maret 2019, 19:31 WIB

Round-Up

TKN Jokowi Vs BPN Prabowo soal Jarak 11,8% di Survei

Tim detikcom - detikNews
TKN Jokowi Vs BPN Prabowo soal Jarak 11,8% di Survei Jokowi dan Prabowo saat debat Pilpres 2019. (Foto: dok. ABC Australia)
Jakarta - Elektabilitas kedua calon presiden, Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, terpaut 11,8 persen dalam survei Litbang Kompas. Masing-masing timses memberikan pandangan soal selisih tersebut.

Jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo, Suhud Alynudin, merespons positif selisih jarak tersebut. BPN menyebut peluang Prabowo memenangi Pilpres 2019 ada di depan mata. Menurut Suhud, hasil survei Litbang Kompas mirip dengan survei internal BPN. Dia mengatakan, dalam survei internal BPN, elektabilitas Jokowi di bawah 50 persen.


"Hasil itu menambah keyakinan kami bahwa peluang kami menang sudah di depan mata, insyaallah," kata Suhud kepada wartawan, Rabu (20/3).

Dalam survei yang dirilis Litbang Kompas, elektabilitas Jokowi sebesar 49,2 persen dan Prabowo 37,4 persen. Jika dibandingkan dengan survei Litbang Kompas yang dipublikasikan pada Oktober 2018, selisih keduanya saat itu di angka 14,7 persen.


Hasil ini sekaligus menunjukkan elektabilitas Jokowi turun 3,4 persen dan Prabowo naik 4,7 persen. Meski elektabilitas Jokowi turun, Tim Kampanye Nasional (TKN) meyakini capres usungannya menang pada pilpres.

"Hasil survei Litbang Kompas memang yang menunjukkan selisih antara 01 dan 02 yang paling tipis. SMRC akhir pekan lalu menunjukkan selisih yang sangat besar, sekitar 25 persen. Namun selisih sekitar 13 persen dengan margin of error sekitar 3 persen merupakan selisih yang sangat sulit dikejar Pak Prabowo. Kami sangat optimistis menang, tinggal menentukan seberapa tebal kemenangan kami," kata Wakil Sekretaris TKN Jokowi-Ma'ruf, Raja Juli Antoni, kepada wartawan, Rabu (20/3).


Beda dengan TKN, Waketum Gerindra Fadli Zon menyebut selisih Jokowi-Prabowo yang menipis di Litbang Kompas menunjukkan kecintaan rakyat terhadap Prabowo-Sandi semakin besar. Fadli menambahkan Indonesia butuh pemimpin baru.

"Ini yang menurut saya membuat masyarakat tentu harus mencari nakhoda baru. Kecuali kalau ekonomi kita berhasil dengan baik, pertumbuhan kita baik, lapangan pekerjaan mudah, tapi kenyataannya kan tidak demikian," ujar Fadli di gedung DPR, Jakarta, Rabu (20/3).

Anggota TKN Jokowi-Ma'ruf, Ridlwan Habib, memiliki penilaian tersendiri soal survei Litbang Kompas. Ridwan turut menyinggung ekstrapolasi elektabilitas Jokowi.


"Hasil survei Litbang Kompas 20 Maret 2019 sangat baik. Ekstrapolasi elektabilitas Jokowi-Amin pada angka 56,8 persen," kata Ridlwan kepada wartawan, Rabu (20/3).

Menurut Ridlwan, tak banyak lembaga survei yang buka-bukaan soal ekstrapolasi elektabilitas capres-cawapres. Ridlwan menyebut, jika menggunakan simulasi ekstrapolasi elektabilitas, Jokowi-Ma'ruf tetap unggul. Ridlwan mengatakan perolehan 56,8 persen lebih besar daripada raupan suara Jokowi pada Pilpres 2014.

Seperti diketahui, survei digelar pada 22 Februari hingga 5 Maret 2019 dengan melibatkan 2.000 responden yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi Indonesia. Margin of error survei ini plus-minus 2,2 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
(dkp/mae)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed