DetikNews
Selasa 19 Maret 2019, 21:41 WIB

2 Hektare Tanaman Kakao di Jambi Diserang Ulat, 1.500 Batang Pohon Busuk

Ferdi Almunanda - detikNews
2 Hektare Tanaman Kakao di Jambi Diserang Ulat, 1.500 Batang Pohon Busuk Petani kakao Junaidi (Ferdi Almunanda/detikcom)
Jambi - Sebanyak 2 hektare lahan tanaman kakao atau cokelat di Desa Gedong Karya, Kecamatan Kumpe, Kabupaten Muaro Jambi, diserang hama ulat. Perkebunan kakao di desa itu kini gagal panen.

"Ada 1.500 batang coklat yang terkena hama ulat itu. Akibatnya, buahnya pada membusuk. Dengan kejadian ini, saya mengalami kerugian hampir Rp 11 juta," kata petani kakao Junaidi Usman kepada detikcom, Selasa (19/3/2019).

Dari jumlah 1.700 batang pohon kakao yang ditanam, sebanyak 1.500 batang kakao tidak layak panen. Hama ulat atau disebut hama penggerek batang itu menyerang tanaman kakao sehingga batang pohon kakao mati, daunnya pun mengering, dan buahnya menjadi hitam serta busuk.



Junaidi berupaya membasmi hama penggerek batang dengan racun hama seadanya, tapi tidak mempan. Ia pun mengaku kewalahan atas kejadian hama penggerek tersebut.

"Saya sudah coba pakai semprot racun hama, tetapi hama ulat itu tidak hilang-hilang juga. Beberapa batang pohon yang mati itu juga sudah saya beri pupuk agar pohon yang mati itu bisa hidup dan berbuah kembali, tetapi tetap hamanya tidak bisa hilang," ujarnya.

Perkebunan kakao itu mulai terkena hama penggerek batang sejak 2015. Pada saat itu, tidak semua batang pohon kakao terkena hama tersebut, hanya sekitar 20 persen. Namun, pada 2019 ini, hama penggerek batang tersebut semakin luas menjadi 80 persen.

"Kalau mulai terkena hama ini awalnya pada 2015. Ini bisa jadi dari dampak kabut asap ketika kebakaran hutan dan lahan di tahun itu. Tetapi tidak begitu banyak batang pohon kakao yang terkena, hanya sekitar 20 persen. Sekarang hama ini semakin luas saja, hampir 80 persen pohon kakao yang terkena hama ulat ini," kata Junaidi.



Hama ulat itu juga mengakibatkan hasil produksi buah kakao menurun drastis. Tahun ini Junaidi hanya dapat memanen buah kakao per bulan sekitar 19 kilogram.

"Biasanya dalam satu bulan itu buah kakao ini kita panen dua kali. Kalau sebelum terkena hama ulat, saya dapat memanen sekitar 400 kilogram selama satu bulan. Tetapi setelah adanya hama ini, saya hanya bisa panen buah kakao 19 kg saja per bulan," ujarnya.

Dampak hama ulat ini juga berimbas pada turunnya harga buah kakao di pasaran. Para tengkulak yang membeli buah kakao dari petani hanya mampu membayar sekitar Rp 12 ribu per kilogram, dari harga sebelumnya mencapai Rp 32 ribu per kg.

"Harga yang turun sangat drastis ini bisa jadi karena permintaan buah kakao yang banyak tidak dapat terpenuhi. Biasanya para petani kakao yang lagi melimpah panen, tengkulak membeli dengan harga Rp 32 ribu per kilo. Sekarang karena buah kakao payah untuk diproduksi karena hama, harga itu anjlok jadi Rp 12 ribu satu kilonya," katanya.



Dengan adanya hama ulat tersebut, sebagian petani kakao yang ada di desa itu gulung tikar. Mereka ada yang beralih pekerjaan menjadi petani karet dan pinang karena tidak sanggup menanggung biaya perawatan yang besar setelah terkena hama ulat itu.

"Sekarang tinggal beberapa petani yang masih mau bertahan dengan berkebun tanaman kakao ini. Selebihnya ada yang beralih ke petani karet sama pinang. Kalau saya masih tetap bertahan, masih terus mencoba. Semoga saja ada solusinya," sebutnya

Junaidi pun berharap pemda Muaro Jambi memberikan bantuan berupa racun pembasmi hama ulat dan pupuk bantuan untuk memperbaiki pohon cokelat tersebut agar sebagian warga di Desa Gedong Karya, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, yang menggantungkan hidupnya dengan cara berkebun kakao dapat terbantu perekonomian mereka agar tidak terpuruk.
(idn/idn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed