DetikNews
Selasa 19 Maret 2019, 15:31 WIB

Polri Cek Video Pria Berseragam Cokelat Ikut Yel-yel 'Jokowi Yes'

Audrey Santoso - detikNews
Polri Cek Video Pria Berseragam Cokelat Ikut Yel-yel Jokowi Yes Brigjen Dedi Prasetyo (Foto: Matius Alfons/detikcom)
Jakarta - Video yel-yel 'Jokowi Yes' yang memperlihatkan pria berseragam cokelat viral beredar di media sosial. Polri akan mengecek kebenaran video tersebut.

Video berdurasi 28 detik itu memperlihatkan sejumlah orang sedang berada di ruangan dan dua pria berseragam mengabadikan acara menggunakan ponsel mereka. Terdengar seseorang memandu orang-orang yang hadir untuk mengucapkan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggunakan pengeras suara.

Lalu ada arahan untuk mengucapkan yel-yel 'Jokowi yes yes yes' yang kemudian diikuti orang-orang yang hadir. Tidak terlihat siapa yang memberi arahan.

"Wasit jangan ikut kompetisi, tugasmu mengayomi," tulis netizen dengan nama akun Twitter @JackVardan.



Dikonfirmasi terkait video tersebut, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menuturkan tim dari Direktorat Siber Bareskrim akan melakukan pengecekan terhadap video termasuk akun yang memviralkan video itu.

"Akan melakukan pengecekan terhadap video tersebut, termasuk akun yang menyebarkan video maupun foto akan didalami," kata Dedi di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (19/3/2019).

Polri menegaskan seluruh jajarannya memegang prinsip netralitas di ajang pemilu. "Yang jelas Polri, dalam kontestasi pemilu ini, adalah netral. Netralitas harga mati dalam rangka mewujudkan pemilu yang aman damai dan sejuk," lanjutnya.

Dedi menjelaskan pihaknya akan mengecek lokasi dan waktu dan kegiatan yang sedang berlangsung video tersebut diambil. Dia mengatakan apa yang tergambar di video yang viral belum tentu sesuai dengan kondisi aslinya.

"Ini kan dicek dulu tempatnya di mana atau lokasinya di mana, tanggal berapa, kegiatan itu tentang apa. Jadi belum tentu narasi-narasi yang dibuat oleh akun yang memviralkan itu sesuai dengan kegiatan yang dilakukan. Belum tentu," ucap Dedi.



Dedi kemudian menerangkan video viral itu perlu diperiksa secara komperhensif karena rawan direkayasa.

"Suara dalam video itu tentunya akan didalami juga. Belum tentu suara yang di dalam video itu juga suara yang menggambarkan kegiatan yang sebenarnya. Jadi semuanya kalau di medsos, harus betul-betul didalami scara komperhensif," terang Dedi.

"Karena sangat banyak yang by rekayasa. Foto video sudah ada aplikasi sekarang untuk mendesain itu. Suara apalagi, sangat mudah diedit," sambung Dedi.
(imk/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed