detikNews
Selasa 12 Maret 2019, 00:01 WIB

Dampak Panjang Tsunami Selat Sunda: Sepinya Turis Pulau Seribu

Danu Damarjati - detikNews
Dampak Panjang Tsunami Selat Sunda: Sepinya Turis Pulau Seribu Ilustrasi (Danu Damarjati/detikcom)
Jakarta - Tsunami Selat Sunda yang terjadi pada 22 Desember 2018 membuat Kepulauan Seribu sepi dari turis. Dampak ini bahkan terasa panjang hingga dua bulan sesudahnya.

Saat detikcom bersama Teras Kapal BRI Bahtera Seva I mengunjungi Kepulauan Seribu, 18 hingga 22 Februari 2019, banyak homestay yang kosong. Februari memang bukan musim liburan, namun suasana ini dinyatakan warga setempat lebih lesu ketimbang sebelum tsunami.

Sejumlah penginapan di Pulau Pramuka, Pulau Tidung, hingga Pulau Harapan menyisakan kamar-kamar kosong meski akhir pekan. Lautan tenang tanpa gangguan cuaca seolah belum cukup meyakinkan calon turis. Padahal tak ada tsunami di sini, kecuali hanya batu-batu apung sisa fenomena alam ujung 2018 yang terbawa arus laut dan sampai di pasir pantai.

"Itu pengusaha-pengusaha teriak. Mau kolaps-lah," kata Bupati Kepulauan Seribu Husein Murad di Pulau Panggang, Selasa (19/2/2019).



Jumlah kunjungan wisatawan disebutnya menurun drastis sejak jelang tahun baru 2019. Husein memahami biaya operasional para pengusaha pariwisata tidak murah. Mereka, para pemilik penginapan hingga agen travel, juga pembayar pajak. Sejumlah karyawan pun menggantungkan nasibnya dari pariwisata. Dia berharap kondisi ini cepat berakhir.

"Belum pulih," ucap Husein.

Dampak Panjang Tsunami Selat Sunda: Sepinya Turis Pulau SeribuSuasana Pulau Harapan, di deretan jalan ini banyak homestay. (Danu Damarjati/detikcom)

Pemilik Homestay Koja di Pulau Harapan, yakni pasutri Bahrudin (Jagur) dan Komariah (Kokom), menceritakan, sepekan sebelum tsunami, calon tamu sudah memesan tempat menginap. Kokom dan pegawai-pegawainya bahkan sudah mulai memasak hidangan untuk para tamu.

"Tapi, begitu ada berita tsunami, mereka semua cancel (membatalkan)," kata Kokom.

Jumlah tamunya berkurang 80-90 persen sejak tsunami Selat Sunda. Saat suasana malam tahun baru kemarin, tak ada orang-orang yang memenuhi jalanan Pulau Harapan, tak ada pula yang berkemah di tepian sebagaimana suasana sebelumnya.



Dia mendirikan homestay bertarif Rp 500 ribu per malam ini sejak 2016, namun sejak 2006 mereka sudah mulai merintis usaha pariwisata. Jagur dan Kokom punya tiga homestay di Pulau Harapan.

Dampak Panjang Tsunami Selat Sunda: Sepinya Turis Pulau SeribuHomestay Rangga. (Danu Damarjati/detikcom)

Melangkah 800 meter, ada Homestay Rangga yang masih sunyi. Perabotan, seperti dispenser, kipas, dan pendingin ruangan, seolah ikut menanti tamu yang membayar Rp 500 ribu per malam. Yuyun selaku pemiliknya memilih menunggu di warung tetangganya sambil menggendong anak bayinya.

"Ini karena pada ketakutan, jadi sepi. Sekarang kosong, Sabtu-Minggu juga kosong," kata Yuyun. "Padahal ya aman-aman saja," kata dia sambil bercerita tentang suaminya yang bekerja sebagai ojek kapal.

Lurah Pulau Harapan, Murta'a, menyampaikan homestay memang terkonsentrasi di Pulau Harapan, ada pula penginapan-penginapan di Pulau Kelapa sebagai penampung bila wisatawan membeludak. Di Pulau Harapan, ada 171 homestay. Ada pula sekitar 20 rumah layak jadi homestay yang ada di Pulau Sabira, pulau terdepan yang berbatasan dengan Lampung. Secara umum, tempat-tempat itu kena dampak tsunami.

"Biasanya Sabtu-Minggu mendatangkan 1.000 sampai 2.000 wisatawan. Pascatsunami menurun menjadi sekitar 500 ke bawah. Itu untuk Pulau Harapan saja. Untuk pulau lain sama saja dampaknya. Wisatawan masih khawatir dan takut dengan tsunami," kata Murta'a.

Dampak Panjang Tsunami Selat Sunda: Sepinya Turis Pulau SeribuLurah Pulau Harapan, Murta'a. (Danu Damarjati/detikcom)

Kami melaut ke arah selatan sampai Pulau Tidung. Di sini ada Griya Rahma dengan 13 kamar, bertarif Rp 250-500 ribu per malam. Ada pemuda bernama Adlan Kamil (22), putra pemilik Griya Rahma yang aktif mengelola usaha milik orang tuanya. Dia menceritakan, saat Desember 2018, kondisi laut Kepulauan Seribu memang sedang musim gelombang angin barat daya. Begitu muncul berita tsunami, lengkaplah ketakutan para calon tamu.

"Satu bulan sebelum tsunami, kamar kami full booked. Kemudian, begitu ada tsunami di Selat Sunda, semua cancel kecuali tiga kamar," kata putra Mawardi pemilik dua lokasi penginapan ini.



Bila saja tahun baru 2019 ramai wisatawan, kebutuhan hidup warga untuk bulan Januari dan Februari bisa tercukupi. Namun kenyataannya tidak demikian.

"Pendapatan H-3 sampai H+7 tahun baru biasanya Rp 20 juta. Kemarin itu tidak sampai setengahnya. Kami ada pegawai dua orang yang digaji tanpa terpengaruh jumlah tamu, kami juga membayar listrik dua lokasi," tutur Adlan.

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di Ekspedisi Bahtera Seva.



(dnu/knv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed