Polri: Tak Hanya Andi Arief, 13.039 Pengguna Narkoba Juga Direhab

Audrey Santoso - detikNews
Rabu, 06 Mar 2019 18:05 WIB
Foto: Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. (dok Divisi Humas Polri)
Jakarta - Polri menegaskan tidak ada perlakuan istimewa kepada politikus Demokrat Andi Arief terkait kasus penggunaan sabu. Tidak hanya Andi Arief, ada 13.039 penyalahguna narkoba yang ditangkap lalu direhabilitasi sepanjang 2018.

"Tidak hanya Saudara AA (yang direhabilitasi). Dari data BNN pada 2018 saja ada 13.039 penyalahguna narkoba direhabilitasi. Saat tertangkap, dia menggunakan, tidak ditemukan barang bukti dan setelah pemeriksaan terbukti tidak terkait jaringan, direhab," jelas Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada detikcom di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (6/3/2018).


Dari angka tersebut, 1.684 penyalahguna direhabilitasi di balai dan 11.355 penyalahguna direhabilitasi jalan.

Dedi menjelaskan memang tidak semua kasus penyalahgunaan narkoba tanpa barang bukti berujung rehabilitasi seperti Andi Arief. Polisi menerapkan pemidanaan kepada pengguna yang tertangkap tanpa barang bukti, namun ternyata terlibat jaringan setelah pengembangan kasus.

"Pengguna, tidak ada BB (barang bukti)-nya, tapi ternyata dia terlibat jaringan, ya kami pidanakan. Kalau Saudara AA sudah kami dalami, tidak terkait jaringan manapun," ujarnya.

Dedi menerangkan ada lima metode hukum untuk menyelesaikan kasus penyalahgunaan narkoba. Pertama, dengan vonis hukuman badan.

"Teori penyelesaian absolut itu pelaku pidana dapat dihukum yang sifatnya adalah pembalasan terhadap perbuatan pidananya, sebagai bentuk pertanggungjawaban individu," ucapnya.


Kedua, lanjut Dedi, penyelesaian kasus dengan teori relatif yang sifatnya pencegahan. "Yang lebih diutamakan sebelum seseorang melakukan suatu pidana."

Selanjutnya, Dedi mengatakan metode penyelesaian ketiga adalah secara gabungan antara absolut dan relatif. Teori ini kerap diterapkan pada pengedar narkoba yang juga pecandu.

"Teori menekankan bahwa penjatuhan hukuman untuk mempertahankan tata tertib dalam masyarakat dan memperbaiki pribadi masyarakat. Contohnya selain dikenakan hukuman badan bagi pelaku, juga menjalani rehabilitasi bagi pelaku pengedar yang juga sebagai pecandu narkoba," ujar dia.

Keempat, dengan teori treatment. Contohnya, penyelesaian berdasarkan surat edaran kabareskrim bahwa penyalahgunaan narkotika tidak harus diselesaikan melalui peradilan pidana.

"Mengacu pada Surat Edaran Kabareskrim Nomor 01/II/2018 kemudian merujuk angka 2, huruf b itu disebutkan bahwa tersangka pengguna narkotika yang tertangkap dengan bukti pemeriksaan urine positif, sedang tidak ada ditemukan barang bukti pada tersangka, itu dapat diterapkan restorative justice," sambung Dedi.

Metode penyelesaian yang terakhir adalah dengan perlindungan sosial atau social defence seperti sanksi adat.

"Mengintegrasikan individu ke dalam tertib sosial dan bukan pemidanaan perbuatannya. Ini lebih banyak digunakan dalam hukum adat atau hukum-hukum yang sanksinya adalah denda adat atau denda berupa materiil, yang dibebankan pada pelaku sesuai dengan aspirasi-aspirasi masyarakat pada umumnya," pungkasnya.



Tonton ujuga video Andi Arief Akhirnya Muncul di BNN:

[Gambas:Video 20detik]

(aud/idh)