detikNews
Kamis 28 Februari 2019, 22:58 WIB

Cerita Kepala Pusat Gempa BMKG soal Tsunami Palu dan Selat Sunda

Adhi Indra Prasetya - detikNews
Cerita Kepala Pusat Gempa BMKG soal Tsunami Palu dan Selat Sunda Para pembicara diskusi bertajuk 'Amankah Jakarta dari Tsunami?'. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)
Jakarta - Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono bercerita pengalamannya mendeteksi tsunami di Tanah Air. Rahmat mengaku berperan langsung dalam mendeteksi tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah, Banten, dan Aceh.

Rahmat awalnya menceritakan tsunami yang terjadi di Aceh pada 2004. Saat itu, dengan alat yang terbatas, sumber gempa baru diketahui beberapa jam setelah tsunami terjadi.

"Pada saat tsunami Aceh, dua jam kemudian kami baru mampu mengetahui di mana sumber gempanya. Artinya, kalau kita tahu sumber gempanya di sekitar Simeulue (kabupaten), itu sama saja tsunami sudah melanda Aceh. Karena, begitu gempa, sekitar 20 menit kemudian tsunami melanda Aceh," kata Rahmat saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk 'Amankah Jakarta dari Tsunami?' di Hall Putri Duyung Ancol, Jakarta Utara, Kamis (28/2/2019).




Selanjutnya Rahmat bercerita tentang tsunami yang menerjang Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Rahmat mengakui dialah yang mengakhiri peringatan tsunami di dua daerah itu.

"Saya yang waktu itu mengakhiri warning karena data di Mamuju sudah kami dapatkan, tingginya 6 sentimeter. Tsunami bergerak ke Donggala, Palu kena, bergerak ke selatan menuju Mamuju dan Makassar. Data kami dapatkan di Mamuju pada sekitar pukul 17.27 WIB, kemudian data itu sebagai dasar kami mengakhiri warning," papanya.

Rahmat menyadari banyak pihak yang mengira BMKG kecolongan mendeteksi tsunami Palu dan Donggala ini. Namun dia sebetulnya yakin tsunami sudah menerjang Palu dan Donggala karena data yang didapat BMKG, tsunami sudah terjadi di Mamuju.

"Tsunami sudah tercatat di Mamuju, artinya tsunami sudah melanda Palu. Walaupun kalau ditanya, 'tahu nggak waktu mengakhiri warning, tsunami terjadi di Palu?'. Tidak ada yang tahu karena komunikasi putus," jelasnya.

"Tapi kami yakin tsunami telah melanda Palu berdasarkan data di Mamuju. Karena itu tadi, di atas sudah kena, Mamuju di bawah. Sudah tercatat di sini, berarti yang di atas sudah kena semua," imbuh Rahmat.




Rahmat kemudian menceritakan tsunami Selat Sunda. Dia mengklaim sejak awal air laut yang naik ke daratan di sepanjang pesisir Banten merupakan tsunami.

"Data tide gauge diketahui, terkirim dari dua di Lampung, dua di Banten sekitar pukul 22.18 WIB. Begitu saya melihat data itu, saya langsung nyatakan ini tsunami, saya yakin. Saya langsung lapor tsunami melanda Banten. Kaget pimpinan, kok nggak ada gempa," tutur Rahmat.

Dia kemudian menjelaskan alasan BMKG masih menyatakan air yang menerjang daratan Banten itu gelombang tinggi, bukan tsunami. Alasannya, BMKG tidak mendeteksi adanya gempa.

"Waktu itu kan viral BMKG menyatakan gelombang tinggi dan sebagainya. Dan memang betul, pada 21 Desember 2018 sudah menyampaikan warning gelombang tinggi untuk sekitar Selat Sunda pada ketinggian 1,5-2,5 meter. Gelombang tinggi dirilis pada 21 Desember dan berlaku mulai 22-25," terang Rahmat.

"Nggak ada gempa tiba-tiba tsunami, BMKG Serang ditanya, 'ini apa?', dijawab, 'ya gelombang tinggi'. Karena kami di pusat gempa bumi nggak mengeluarkan warning karena nggak ada gempa," sambungnya.
(zak/fjp)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com