DetikNews
Rabu 27 Februari 2019, 16:03 WIB

Dubes Wahid Undang Mendikbud Buka Festival Indonesia Ke-4 di Moskow

M Guruh Nuary - detikNews
Dubes Wahid Undang Mendikbud Buka Festival Indonesia Ke-4 di Moskow Dubes M Wahid Supriyadi dan Mendikbud Muhadjir (M Guruh Nuary/detikcom)
Jakarta - Duta Besar Indonesia untuk Rusia M Wahid Supriyadi menemui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy. Dia mengundang Muhadjir untuk datang ke Moskow, Rusia, membuka acara Festival Indonesia ke-4.

"Kami akan menyambut 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia dengan Rusia. Banyak sekali kegiatan-kegiatan yang paling menonjol itu tentang budaya. KBRI Moskow mengundang Pak Mendikbud untuk hadir dan berkenan membuka Festival Indonesia yang ke-4," kata Wahid di Gedung A Kemendikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (27/2/2019).

Dubes Wahid mengatakan festival ini akan jadi yang terbesar. Tahun lalu, Festival Indonesia yang digelar di Taman Krasnaya Presnya sukses dihadiri 135 ribu orang, melampaui target 120 ribu pengunjung.

Suasana Festival Indonesia di Moskow 2018 laluSuasana Festival Indonesia di Moskow pada 2018. (Herianto/detikcom)

"Yang kedua, kita dengan Rusia sudah ditandatangani perjanjian kebudayaan tahun 2016 waktu Pak Presiden ke sana. Tapi terakhir tanggal 20 ini, saya sampaikan ke Pak Menteri, kita setuju untuk memperpanjang," sambungnya.

Selain itu, lanjut Dubes Wahid, dirinya juga membicarakan kelanjutan sekolah Indonesia di Moskow dengan Mendikbud. Memang, menurutnya, jumlah siswanya tidak besar, tapi sangat potensial mengenalkan Indonesia kepada publik Rusia, khususnya Moskow.


"Memang jumlahnya tidak besar, dari segi pelajar mahasiswanya. Tapi itu salah satu pusat strategis untuk mengenyam pendidikan dan kebudayaan. Karena sekolah Indonesia Moskow memilih 26 sekolah partner. Kebanyakan anak SD, SMP, dan SMA. Mereka adalah kepanjangan tangan dari Indonesia, merekalah yang memberikan informasi tentang Indonesia kepada masyarakat Rusia. Bahkan sempat viral ada anak SD yang menyanyikan lagu 'Indonesia Raya' dengan sangat fasih. Pak Menteri juga mengapresiasi, sekolah ini memang meski ada masalah teknis yang harus kita selesaikan, karena jumlahnya kan tidak banyak ya," paparnya.

Dubes Wahid juga membahas masalah Darma Siswa. Menurutnya, keinginan masyarakat Rusia, terutama generasi muda, belajar bahasa Indonesia sangat tinggi. Padahal, menurutnya, saat dia baru menjabat dubes di sana, jurusan bahasa Indonesia di beberapa tempat sudah hampir tutup.

"Di sana cuma ada dua, di Moscow State University dan Saint Petersburg University. Tapi sekarang jumlahnya meningkat setelah ada festival itu. Kemudian juga, ada bukaan baru namanya Kazan Federal University, itu dari Republik Kazakhstan, negara bagian Rusia yang mayoritas penduduknya muslim. Mereka membuka dua tahun lalu, tahun berikutnya sudah 100 persen yang mendaftar. Ini saya rasa perlu diapresiasi," ujarnya.

Dubes Wahid juga mengapresiasi Kemendikbud yang secara rutin mengirim guru Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Menurutnya, sambutan terhadap guru-guru ini di sana sangat luar biasa.


"Mereka malah menahan guru-gurunya agar tidak pulang begitu. Kebetulan saya sempat ketemu dengan salah satu guru yang sekarang sudah pulang, ia katakan Rusia tidak seperti yang dibayangkan. Ia terharu. Karena selama ini kita lihat Rusia itu dari Hollywood ya. Orang ndak tahu 25 juta warga Rusia beragama Islam. Sebetulnya negeri muslim terbesar di Eropa itu, ya di Rusia itu. Banyak sejarahnya sebenarnya. Ada makam Imam Buchori, yang dulu pernah diziarahi Bung Karno. Memang dulu bagian Uni Soviet ya, sekarang masuknya Uzbekistan," jelasnya.

Terakhir, lanjut Dubes Wahid, dirinya dan Mendikbud juga membahas rencana pembukaan Atase Pendidikan dan Kebudayaan. Dia berharap hal ini cepat terealisasi.

"Satu lagi, rencana akan membuka Adikbud, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, yang memang masih proses. Tadi dari KBRI Moskow sangat mendukung, karena ini negeri besar. Ada 600 mahasiswa dan akan bertambah setiap tahunnya. Karena Rusia memberikan kuota beasiswa 160-an. Belum lagi kerja sama antara universitas yang selama ini sudah berjalan. Kira-kira dalam 2 atau 3 tahun ini ada 15 kerja sama, jadi memang perlu ada seorang Adikbud di sana," ucapnya.
(hri/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed