detikNews
Rabu 27 Februari 2019, 07:47 WIB

19 Aliran Penghayat Kepercayaan di Blitar Tidak Sama dengan Kejawen

Erliana Riady - detikNews
19 Aliran Penghayat Kepercayaan di Blitar Tidak Sama dengan Kejawen Foto: dok. mk
Blitar - Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Pemkot Blitar mencatat ada 19 aliran penghayat kepercayaan. Dari jumlah itu, tujuh aliran mempunyai ratusan orang penghayat kepercayaan.

Walaupun semua nama penghayat kepercayaan berbahasa Jawa, mereka menekankan bahwa penghayat kepercayaan berbeda dengan Kejawen.

Aliran penghayat kepercayaan yang jumlah warganya paling banyak ialah Sapto Darma, dengan jumlah 413 orang. Disusul Pamencar Pramono dengan jumlah penganut 364 orang, Kepribadian Jawa Jiwa 322 orang, dan Ilmu Sejati 205 orang.


Selain itu, ada aliran bernama Perjalanan dengan jumlah warga 194 orang, Purwo Ayu punya 168 orang warga, dan Jawa Dwipa dengan 152 orang warga.

Sederet aliran penghayat kepercayaan lain namanya sudah tidak asing bagi warga Blitar, seperti Keblat Papat Lima Pancer, Murti Tomo Waskito, dan Sunarah.

"Jumlah total warga penghayat kepercayaan sebanyak 2.768 warga. Itu sebanyak 2.380 merupakan warga kabupaten dan 388 warga Kots Blitar," terang Ketua Badan Kerjasama Organisasi Kepercayaan (BKOK) Kota Blitar, Edy Sanyoto, ketika ditemui detikcom di rumahnya, Jalan Dieng Kota Blitar, Rabu (27/2/2019).

BKOK telah resmi terdaftar sebagai organisasi kemasyarakatan di Pemkot Blitar. Nomornya 220/34/409.202/2011.

Walaupun mengaku sebagai warga negara yang termarginalkan, Edy mengapresiasi keputusan MK yang mengizinkan kolom agama pada KTP elektronik akhirnya diisi penghayat kepercayaan.


"Saya sangat mengapresiasi setinggi-tinggi kepada pemerintah, karena pemerintah atau yang berkompeten dalam bidangnya masih konsisten dengan negara yg berdasarkan Pancasila. Utamanya sila ke-1 Ketuhanan Yang Maha Esa," ujar pria berusia 61 tahun ini.

Dalam wawancara dengan detikcom, Edy ingin meluruskan penilaian yang jamak di masyarakat tentang penghayat kepercayaan pada Tuhan YME dengan Kejawen.

"Kejawen itu komunitas yang ngluri (melestarikan kearifan lokal), seperti budaya nyadran, slametan, dan lain-lain. Kalau penghayat kepercayaan, ya kami mempercayai jika Tuhan itu Esa. Satu," tandasnya.

Dalam penghayat kepercayaan juga tidak dikenal istilah prosesi ritual. Media ritual dan sasi (hari) ritual. Semua itu hanya ada di pelaksanaan kegiatan Kejawen.

"Penghayat kepercayaan tidak pakai ritual atau media. Kami bukan ateis. Kami hanya bersujud, memasrahkan semua kepada kehendak Yang Maha Esa," pungkasnya.
(aan/aan)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com