detikNews
Senin 18 Februari 2019, 14:22 WIB

Kalemdiklat Ke Taruna Akpol: Hapus Tradisi Kekerasan Senior ke Junior!

Tim detikcom - detikNews
Kalemdiklat Ke Taruna Akpol: Hapus Tradisi Kekerasan Senior ke Junior! Foto: Komjen Arief Sulistyanto di tengah barisan Taruna Akpol/Dok Lemdiklat Polri
Jakarta - Kalemdiklat Polri Komjen Arief Sulistyanto meminta para taruna Akademi Kepolisian (Akpol) sungguh-sungguh menghapus tradisi kekerasan di masa pendidikan. Arief menuturkan tradisi asih dan asuh antara senior dan junior harus diterapkan.

"Hilangkan tradisi perilaku yang tidak baik dan jangan dilakukan lagi selamanya. Jangan ada lagi tradisi kekerasan dalam hubungan senior dengan junior. Bangunlah hubungan senior dengan junior yang harmonis, saling asah , saling asih dan salung asuh. Inilah modal untuk membangun soliditas Polri ke depan," kata Arief kepada para taruna, dikutip dari keterangan tertulisnya, Senin (18/2/2019).

Arief menyampaikan hal itu saat memimpin Upacara Hari Kesadaran Nasional di Akpol, Semarang, Jawa Tengah, pagi tadi. Peserta upacara yaitu para pengajar dan taruna.

"Yang saat ini menjadi senior suatu saat akan bisa menjadi anak buah juniornya, demikian sebaliknya. Jaga dan binalah hubungan kekerabatan taruna dengan tradisi yang baik , saling mendukung dan mendorong untuk mencapai sukses dalam pendidikan dan perjalanan karier," ucap Arief dalam apel tersebut.

Arief yakin para taruna menyadari tradisi kekerasan membawa dampak buruk untuk kehidupan taruna. Arief pun mengingatkan para taruna agar latar belakang keluarga tidak dijadikan alasan untuk memunculkan perbedaan sikap antar taruna.

"Kalian berasal dari berbagai latar belakang keluarga, ada yg anak petani, ada anak sopir, pegawai negeri, pejabat sipil maupun TNI/ Polri bahkan ada anaknya jendral," tutur Arief.

"Saya tidak perduli latar belakang orang tua kalian, yang saya pedulikan adalah mendidik dan membentuk kalian menjadi perwira dan pemimpin yang hebat dan mumpuni," sambung dia.

Arief juga menyampaikan kepada para taruna tentang jiwa seorang pemimpin, integritas dan kemandirian hanya dapat diraih atas kemauan diri sendiri. Tanpa niat, tambah Arief, maka sifat-sifat tersebut tak akan terwujud.

"Jangan berharap kalian bisa maju kalau dirimu tidak ada kehendak untuk maju. Perubahan harus dimulai dari dalam diri sendiri. Jangan sampai dirubah oleh orang lain," tegas dia.

"Integritas harus tertanam dan menjadi kebutuhan sebagai bekal kelak menjadi perwira dan pemimpin Polri di masa depan," lanjut dia.

Dalam upacara, Komandan Resimen Korps Taruna juga membacakan pakta integritas para taruna dan taruni. Ada 7 poin yang menjadi ikrar mereka.

"Intinya penanaman kesadaran pribadi para taruna untuk selalu berfikir,bersikap dan bertindak dalam norma dan nilai etika taruna. Serta menerapkan sifat open, tertib, bersih dan bertanggung jawab sebagai implentasi nilai-nilai kepemimpinan," jelas Arief.



Sebelumnya 13 taruna diberhentikan karena terlibat dalam kasus penganiayaan terhadap taruna tingkat II atas nama Muhammad Adam, yang berujung pada kematian, pada 18 Mei 2017 lalu.

Keputusan ini merupakan salah satu terobosan berani Kalemdiklat Komjen Arief Sulistyanto. Sidang Wanak dipimpin Gubernur Akpol Irjen Rycko Amelza Dahniel setelah sebelumnya ada putusan MA bahwa ke-13 taruna tersebut terbukti bersalah.

Sidang digelar pada Senin (11/2) kemarin sekitar pukul 13.00 WIB hingga 23.30 WIB bertempat di Gedung Paramarta komplek Akpol. Sanksi terberat diterapkan kepada 13 taruna bermasalah tersebut.

Sebanyak 13 taruna yang dikeluarkan tersebut antara lain Martinus Bentanone, GJN-GCM, RLW, JED, dan RAP. Lalu ada IZPR, PDS, AKHU, CAEW, RK, EP, dan HA.


(aud/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed