DetikNews
Senin 04 Februari 2019, 12:36 WIB

Menko Polhukam Protes Tuduhan Prematur Filipina soal WNI Bomber Gereja

Zakia Liland - detikNews
Menko Polhukam Protes Tuduhan Prematur Filipina soal WNI Bomber Gereja Menko Polhukam Wiranto (Nur Azizah Rizki Astuti/detikcom)
Jakarta - Menko Polhukam Wiranto menyayangkan otoritas Filipina yang sempat membuat pernyataan bahwa pelaku bom di katedral Jolo merupakan warga negara Indonesia (WNI). Dia menegaskan seharusnya jangan ada pernyataan tanpa ada bukti-bukti yang konkret.

"Saat ini kan cukup ramai dipertanyakan mengenai tuduhan dari pihak Filipina, terutama Menteri Dalam Negeri, bahwa ada keterlibatan WNI dalam aksi teror di Filipina. Nah, ini saya sampaikan bahwa itulah berita sepihak," kata Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (4/2/2019).


Wiranto menyayangkan informasi tersebut keluar dan merugikan pihak Indonesia. Hingga saat ini Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) bersama Kementerian Luar Negeri (Kemlu) proaktif melakukan pengecekan.

"Itu belum tuntas, masih otoritas Filipina itu sendiri, pihak kepolisian, pihak yang bersangkutan yang dengan terorisme sedang menjajaki, sedang mengusut, sedang memastikan, ini siapa. Banyak kemungkinan mestinya. Ini tidak ujug-ujug divonis kalau itu orang Indonesia," jelasnya.

"Kembali lagi, kami minta, jangan terjebak dalam pernyataan sepihak. Kita tunggu saja. BNPT dan Kementerian Luar Negeri sedang melakukan penjajakan, bahkan memastikan, entah apakah akan mengirim orang ke sana. Jangan sampai pemahaman kita sendiri, penjelasan sendiri, dengan langsung memvonis bahwa itu adalah orang Indonesia," sambung Wiranto menegaskan.

Sebelumnya, Kemlu RI juga menyayangkan pernyataan otoritas Filipina bahwa pelaku bom gereja merupakan WNI. Pernyataan tersebut keluar tanpa lebih dulu dilakukan verifikasi.

"Kita sangat menyesalkan pihak Filipina untuk kesekian kalinya membuat pernyataan tentang WNI terlibat tindakan terorisme di Filipina tanpa proses verifikasi terlebih dahulu," kata Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Kemlu Lalu Muhammad Iqbal saat dihubungi, Jumat (1/2).

Kemlu masih terus mencari kepastian lewat pihak keamanan Filipina. Lalu mengatakan otoritas Filipina belum mempunyai cukup bukti terkait ledakan di Our Lady of Mt Carmel Cathedral di Jolo terjadi pada 27 Januari lalu.


Pernyataan bahwa yang menjadi pelaku bom di gereja Katolik Pulau Jolo adalah WNI disampaikan Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano. Eduardo Ano menyebut pasutri tersebut dibimbing kelompok Abu Sayyaf. Dia menyebutkan pasangan itu ingin memberi contoh dan mempengaruhi teroris Filipina untuk melakukan bom bunuh diri.

Penyelidikan tragedi bom kembar di katedral Jolo ini memang diwarnai kesimpangsiuran dan informasi tidak konsisten dari otoritas setempat. Awalnya dinyatakan bahwa bom diledakkan dari jarak jauh, sebelum akhirnya Presiden Rodrigo Duterte mengungkapkan ada pengebom bunuh diri di balik ledakan yang menewaskan sedikitnya 22 orang tewas dan lebih dari 100 orang lainnya luka-luka.
(hri/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed