detikNews
Minggu 03 Februari 2019, 16:07 WIB

Pengungsi Sudan di Kalideres: Keluargaku Dibantai Janjaweed

Adhi Indra Prasetya - detikNews
Pengungsi Sudan di Kalideres: Keluargaku Dibantai Janjaweed Pengungsi dari Sudan di Kalideres (Adhi Indra Prasetya/detikcom)
Jakarta - Sambil duduk di bangku sekretariat RW, pemuda ini menceritakan horor kemanusiaan yang membuatnya pergi menyelamatkan diri. Konflik politik bercampur sentimen kesukuan telah menumpahkan darah bapak, ibu, dan saudara-saudaranya.

Dia adalah Awadallah Bakhir Jomaa, pengungsi usia 22 tahun yang bertahan hidup di sekitar Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Jakarta, Jl Peta Selatan, Kalideres, Jakarta Barat. Pria kulit hitam ini menjadi pencari suaka usai keluarganya dibantai di Darfur, Sudan.

"That place is very hard. Jika kamu disakiti, tak ada yang menolongmu, itu sebabnya aku kabur dan datang ke sini," kata Awadallah kepada detikcom, Selasa (29/1/2019).



Konflik Darfur yang pecah sejak 2003 melibatkan kelompok bersenjata bernama Janjaweed, isinya adalah suku-suku Arab dan non-Arab di kawasan itu. Perang itu, dilansir Deutsche Welle, menelan setengah juta korban jiwa. Tiga juga penduduk menjadi pengungsi di negeri sendiri. Dilansir CNN, Mahkamah Pidana Internasional telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Presiden Omar Hasan Ahmad al-Bashir atas tuduhan kejahatan perang dan genosida di Darfur. Surat perintah itu terbit 2009. Namun hingga sekarang, Presiden Bashir masih duduk di jabatannya.

Awadallah adalah satu di antara sekian banyak anak korban konflik brutal di negaranya. Saat kelompok teror bernama Janjaweed menggempur desanya, sebelum 2017, suasana jadi kacau balau. Awadallah lari menyelamatkan diri.

"So I'm done, aku memutuskan untuk kabur dari Darfur. Mereka membunuh keluargaku, saudara-saudaraku, pamanku, semuanya. Aku kemudian kabur ke Khartoum," kata dia.

Pengungsi Sudan di Kalideres: Keluargaku Dibantai JanjaweedPara pengungsi dari Sudan di Kalideres (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Di Khartoum, Ibu Kota Sudan, kondisi dirasanya masih berbahaya. Orang Darfur seperti dirinya sulit hidup damai di Khartoum. Dia merasa sangat rentan kena persekusi etnis. Konflik bersentimen suku agama ras dan antargolongan (SARA) menyengsarakan orang-orang seperti dirinya.

"Aku akan ceritakan sedikit tentang Sudan. Jadi pemerintah Sudan menjadi bagian Arab League. Mereka mau Sudan itu menjadi negara Arabic. Sementara suku asli Sudan adalah orang kulit hitam. Orang-orang Arab datang dan melawan orang kulit hitam. Kalau mau bekerja, kamu tidak bisa karena kamu orang kulit hitam. Jadi kamu diabaikan, tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Itulah kondisi mayoritas orang kulit hitam," tuturnya beropini.



Karena Khartoum tidak aman, dia memutuskan terbang ke Arab Saudi dan melanjutkan perjalanan sampai Indonesia. Pada 2017, dia menjadi penghuni Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Karena kondisi di Rudenim Tanjungpinang dirasanya tidak aman dan "sangat keras", dia memutuskan untuk kabur.

"Kondisinya gila, lalu aku pindah ke sini, sekarang sudah setahun aku berada di jalan seperti ini," kata Awadallah.

Dia berada di jalanan Kalideres sejak 2017 dan mengantongi kartu pengungsi dari UNHCR (Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi) sejak dua tahun lalu. Dia merasa tak terlalu mudah hidup sebagai pria kulit hitam asal Afrika di Kalideres. Baginya, Jakarta punya kemiripan seperti Khartoum dengan kadar tertentu. Itulah yang membuatnya ingin meninggalkan Indonesia, menuju negara yang menerima pengungsi.

"Orang Indonesia ada yang memotretmu, mengejekmu. Setiap saat kami kelaparan, mereka bilang 'Kamu orang asing, kamu bukan orang Indonesia, kamu mirip binatang, bukan manusia!'. Beberapa orang melihatmu, memanggil 'Hei black man! Orang hitam, orang hitam! Kenapa kamu duduk di sini?' mereka mengejekmu, sudah sering sekali," tuturnya.

"Kalau misalnya aku sedang berbelanja, aku juga suka diejek. Aku juga tidak bisa apa-apa, aku tidak bisa melawan mereka karena peraturannya seperti itu. Ada yang melempariku pisang atau yang lain, mengejekku. Jadi di sini cukup sulit, aku tidak bisa hidup di sini," kata Awadallah.



Dia punya mimpi untuk hidup di negeri Paman Sam. Menurutnya, negara yang kini dipimpin Donald Trump itu lebih bisa menerima kaum kulit hitam ketimbang Indonesia. "Aku memilih Amerika, di sana banyak orang kulit hitam," ucapnya.

Dia tidak bisa terus-terusan berada di Indonesia sebagai pengungsi, karena Indonesia bukan termasuk salah satu negara peratifikasi Konvensi PBB mengenai Status Pengungsi Tahun 1951 dan Protokol mengenai Status Pengungsi 31 Januari 1967. Sebagai pencari suaka, dia tidak bisa bekerja secara legal di Republik ini.

"Aku ingin mempunyai keluarga, aku ingin membaca, aku ingin mendapat sertifikat untuk bekerja. Aku mencari kehidupan yang lebih baik," tuturnya.

Pengungsi Sudan di Kalideres: Keluargaku Dibantai JanjaweedFoto: Para pengungsi pencari suaka di Kalideres, Jakarta Barat. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Awadallah duduk bersama enam temannya sesama pengungsi dari Sudan. Meski mereka kerap menerima sikap tak mengenakkan gara-gara warna kulit mereka, namun mereka mengakui kebaikan hati orang Indonesia yang telah memberi mereka makan hampir setiap hari.

"Tak ada yang menolongmu. Hanya ada sekelompok orang Chinese yang memberimu makan setiap hari. Aku tidak tahu mereka dari organisasi apa, tapi setiap hari mereka memberi makanan, aku sangat menghargai bantuan mereka," kata dia.

Simak berita-berita tentang balada pencari suaka di detikcom.


(dnu/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com