detikNews
Senin 21 Januari 2019, 14:45 WIB

Sidang Dagang Perkara PN Jakpus

Nurhadi Akui Telepon Eks Panitera PN Jakpus Soal Perkara Kedaluwarsa

Zunita Putri - detikNews
Nurhadi Akui Telepon Eks Panitera PN Jakpus Soal Perkara Kedaluwarsa Mantan Sekretaris MA Nurhadi (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi mengaku pernah menghubungi Edy Nasution saat menjabat panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) melalui sambungan telepon. Nurhadi menyebut apa yang dilakukannya sesuai dengan kewenangan sebagai Sekretaris MA.

"Iya pernah saya telepon sekali, tapi konteksnya masih berkaitan tugas wewenang saya," ucap Nurhadi saat bersaksi dalam sidang lanjutan perkara dagang perkara dengan terdakwa Eddy Sindoro di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (21/1/2019).




Eddy Sindoro didakwa menyuap Edy Nasution membantunya menerima pengajuan peninjauan kembali (PK) salah satu perusahaannya meskipun batas waktu pengajuannya sudah kedaluwarsa. Saat itulah Nurhadi disebutkan dalam surat dakwaan menghubungi Edy Nasution agar pengajuan PK dari Eddy Sindoro segera dikirimkan ke MA untuk diproses.

Menurut Nurhadi, apa yang dilakukannya dengan menelepon Edy Nasution bukanlah suatu pelanggaran atau kesalahan. Dia mengaku menelepon Edy Nasution karena sebelumnya pernah bercerita tentang perkara yang laporannya tidak dikirim-kirim.

"Karena Pak Edy Nasution pernah curhat ke saya. Lalu saya bilang ini ada case satu tahun tapi laporan nggak dikirim," kata Nurhadi.

"Saya nggak ingat perkaranya. Saya telepon ini (perkara) sudah dari satu tahun lebih kok nggak dikirim. Bahasa saya telepon adalah bahasa pembinaan pengawasan di mana saya ada fungsi di situ," imbuh Nurhadi.

Kemudian Nurhadi menyebut permintaannya pada Edy Nasution untuk segera mengirimkan berkas itu agar tidak di kemudian hari menjadi masalah hukum. Menurut Nurhadi, bahasa yang digunakannya pun tidak ada yang seolah-olah berkepentingan.

"Jangankan teman baik. Lisan atau tertulis baik di luar dinas atau di dalam dinas, saya tanggapi. Saya minta jangan sampai ada hal potensi ini jadi temuan malah dilaporkan aparat hukum," sebut Nurhadi.




"Justru kalau saya biarkan, saya salah," imbuh Nurhadi.

Namun Nurhadi mengaku baru satu kali itu saja menghubungi Edy Nasution. Dalam persidangan sebelumnya atau tepatnya pada Senin, 14 Januari 2019, Edy Nasution sempat bersaksi dengan menyebut adanya telepon dari Nurhadi itu. Namun Edy Nasution membantah adanya aliran uang padanya. Edy Nasution menyebut perkara yang dimaksudnya yaitu pendaftaran PK atas putusan pailit MA terhadap PT Across Asia Limited (AAL) meski batas waktu pengajuannya sudah lewat.

Dalam perkara ini, Eddy Sindoro didakwa menyuap Edy Nasution, yang saat itu menjabat panitera PN Jakpus, terkait pengurusan perkara perusahaan yang berkaitan dengan Lippo Group. Edy Nasution sudah divonis bersalah dan dihukum penjara. Sedangkan Nurhadi masih berstatus sebagai saksi.


(zap/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed