detikNews
Minggu 20 Januari 2019, 10:14 WIB

Minyak Sawit 3,7 Ton Tumpah, Pantai Buton Sultra Bau Menyengat

Tim detikcom - detikNews
Minyak Sawit 3,7 Ton Tumpah, Pantai Buton Sultra Bau Menyengat Ilustrasi (dok.detikcom)
Buton - Kapal tongkang yang memuat sekitar 3,7 ton CPO dari Poso, Sulteng menuju Tarjun, Kalimantan Selatan karam di Perairan Buton Selatan, Sultra pada Desember 2018. Kapal milik jasa angkutan PT Kebari Medan Segara karam karena dihantam ombak besar dan angin kencang akibat cuaca buruk.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buton Selatan La Pute mengakui telah menerima sejumlah keluhan dan aduan dari masyarakat terkait dengan tumpahan minyak kelapa sawit mentah itu.

"Pemda Buton Selatan masih menunggu semua hasil dari analisa lapangan yang dilakukan oleh Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wilayah Sulawesi dan UPTD Laboratorum Propinsi Sultra terhadap potensi kerusakan lingkungan," katanya sebagaimana dikutip dari Antara, Minggu (20/1/2019).

Sementara itu, DPRD Sulawesi Tenggara menyayangkan tumpahnya minyak sawit mentah di perairan laut Kabupaten Buton. Akibat tumpahan itu, sudah mengeluarkan bau tidak sedap selama beberapa hari terakhir.

"Kami ikut prihatin adanya kejadian itu dan seharusnya dari pihak perusahaan kapal yang mengangkut minyak sawit mentah (CPO) harus bertanggung jawab untuk menyingkirkan limbah yang mencemari perairan laut di wilayah itu," kata Yaudu Salam Ajo, Ketua Komisi IV DPRD Sultra Yaudu Salam Ajo.

Beberapa waktu lalu dilaporkan ada warga dari tiga desa di Kabupaten Buton Selatan mulai mengeluh sakit kepala, mual, dan muntah akibat menghirup udara yang terkontaminasi bau menyengat dari tumpahan minyak sawit mentah di perairan Buton Selatan. Tiga desa tersebut, yakni Majapahit, Lampanairi, dan Bola.

"Kini masyarakat sudah terganggu kesehatannya. Apalagi tumpahan minyak kelapa sawit ini menimbulkan aroma tak sedap sehingga masyarakat yang menghirup menyebabkan sakit kepala," ungkap Rizal, salah seorang warga Desa Majapahit, Kecamatan Batauga, Kabupaten Buton Selatan.

Rizal mengatakan tumpahan minyak itu juga menimbulkan pencemaran lingkungan dan merusak biota laut sehingga para nelayan tidak dapat lagi dengan lancar mencari ikan.

"Mereka (nelayan, red.) mau pasang bubu saja sudah tidak bisa karena tercemar, apalagi mau pasang jaring. Dan hari ini banyak biota laut dan ikan-ikan kecil yang mati sehingga dikhawatirkan akan terjadi ketidakseimbangan rantai makanan," katanya.

Jika kondisi itu terus terjadi, kata Rizal, ikan-ikan akan semakin berkurang. Hal itu akan berdampak terhadap mata pencaharian nelayan setempat.

Selain itu, katanya, membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkan kondisi lingkungan laut setempat menjadi seperti sedia kala.

"Sudah ada beberapa nelayan yang mengeluh karena tidak dapat tangkapan," katanya.


(rvk/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com