DetikNews
Minggu 13 Januari 2019, 10:18 WIB

Hanura Tuduh 1.000 Titik Kampanye Sandi Hoax, PKS: Mereka Terbiasa Pencitraan

Eva Safitri - detikNews
Hanura Tuduh 1.000 Titik Kampanye Sandi Hoax, PKS: Mereka Terbiasa Pencitraan Suhud Alynudin (Nur Azizah Rizki/detikcom)
Jakarta - Partai Keadilan Sosial (PKS) mengomentari tuduhan kubu pasangan calon Joko Widodo-Ma'ruf Amin soal hoax 1.000 titik kampanye cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno. PKS menilai kubu Jokowi-Ma'ruf tak punya bahan kampanye yang dapat ditawarkan ke masyarakat.

"Tudingan hoax itu bagi kami justru menjadi energi besar, karena hal itu memperlihatkan bahwa kubu sebelah tak memiliki bahan kampanye yang dapat ditawarkan lagi ke masyarakat, kecuali berusaha melabeli semua dengan istilah hoax," ujar Sekretaris Bidang Polhukam DPP PKS Suhud Alynudin lewat keterangan tertulis, Minggu (13/1/2019).


Suhud menyebut kubu Jokowi sudah larut dalam dunia pencitraan sehingga 1.000 titik kampanye Sandiaga yang disebut mereka nyata itu malah dianggap tim 01 hoax.

"Mereka terbiasa di alam pencitraan, sehingga semua hal nyata dilabeli hoax," katanya.

Kampanye maraton yang telah dilakukan Sandiaga, sebut Suhud, sangat efektif untuk meningkatkan elektabilitas Prabowo-Sandi. Suhud mengatakan strategi ini akan terus dilakukan Sandi secara intensif hingga menjelang Pemilu 2019.

"Kampanye maraton yang dilakukan Pak Sandi terbukti efektif meningkatkan elektabilitas pasangan Prabowo-Sandi. Dan dalam tiga bulan ini kami akan terus intensifkan hingga menjelang pencoblosan," tutur Suhud.


Seperti diketahui, sebelumnya ketua fraksi Hanura Inas Nasrullah Zubir mencurigai 1.000 titik kampanye yang dikatakan Sandiaga hanya asbun alias asal bunyi. Menurut Inas, idealnya seorang politikus yang sedang berkampanye melakukan sosialisasi di satu titik menghabiskan waktu dua jam.

"Kalau kita mau sosialisasi secara benar, maka di setiap titik membutuhkan waktu minimal dua jam, yang dihitung sejak datang hingga meninggalkan tempat acara. Persoalannya, apakah Sandiaga sosialisasinya dari satu titik ke titik lain pake 'simsalabim', lalu sampai ke titik berikutnya atau 'terbang' seperti burung? Atau melata pakai mobil sambil dadah-dadah di jalan yang dilewati seolah-olah ada yang menyambut? Nggak mungkin 'simsalabim' kan? Jadi, dari satu titik ke titik lain butuh waktu juga, kita anggap saja dua jam," tutur Inas dalam keterangan tertulis.
(eva/gbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed