DetikNews
Sabtu 12 Januari 2019, 20:30 WIB

Saling Serang Kubu Jokowi-Prabowo Jelang Debat Perdana

Tsarina Maharani - detikNews
Saling Serang Kubu Jokowi-Prabowo Jelang Debat Perdana Jokowi dan Prabowo (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta - Menjelang debat capres-cawapres 2019, hubungan antara timses Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menghangat. Kedua timses saling serang tentang kesiapan jagoan mereka masing-masing.

Dirangkum detikcom, Sabtu (12/1/2019), Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga mengatakan sang capres-cawapres tak fokus memoles penampilan untuk tampil dalam acara debat. Koordinator juru bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut Prabowo dan Sandiaga memilih menyiapkan diri dengan berdiskusi dengan para ahli.


"Fokus Pak Prabowo dan Bang Sandi tidak pada performance. Jadi kita nggak menyewa konsultan untuk me-makeup Pak Prabowo dan Bang Sandi. Kita lebih banyak pada persiapan konten. Jadi apa sih, visi yang akan disampaikan dalam pidato," kata Dahnil.

Diketahui, tema debat perdana pada 17 April 2019 meliputi topik hukum, HAM, korupsi, dan terorisme. Dahnil menyebut ada beberapa ahli yang intens berdiskusi dengan Prabowo dan Sandiaga, salah satunya eks pimpinan KPK Busyro Muqoddas.

"Pak Prabowo dan Bang Sandi akan banyak fokus pada mendengar. Mendengar daripada ahli terkait korupsi, hukum, dan HAM. Pihak yang mendengar salah satunya adalah Busyro Muqoddas," sebutnya.


Pernyataan Dahnil direspons Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf. Menurut TKN Jokowi-Ma'ruf, Prabowo dan Sandiaga memang layak mendapatkan 'bimbingan belajar' jelang debat capres-cawapres.

"Wajar, Prabowo-Sandi perlu banyak latihan jawab soal dan diskusi dengan ahli karena pengalaman mereka yang minim dalam tema debat I," kata juru bicara TKN Jokowi-Ma'ruf, Ace Hasan Syadzily.

Menurut Ace, Prabowo-Sandiaga tertinggal dari Jokowi-Ma'ruf. Dia mengatakan Jokowi-Ma'ruf memiliki pengalaman mumpuni, sehingga siap menjawab isu-isu dalam debat capres-cawapres perdana pekan depan.

"Jokowi punya pengalaman yang panjang terkait dengan reformasi hukum dan regulasi. Pengalaman menjadi wali kota, gubernur, dan 4 tahun di pemerintahan menjadi bekal yang cukup menjawab isu-isu hukum," kata Ace.


"Demikian pula dengan Kiai Ma'ruf Amin yang memang terbiasa berdebat dalam forum di kalangan ulama seperti bahtsul masail, yang membahas tentang berbagai persoalan aktual keislaman dalam hukum Islam atau fikih. Beliau memiliki kemampuan ilmu mantik yang sangat mumpuni," imbuh dia.

Di lain sisi, TKN Jokowi-Ma'ruf juga mendapatkan kritik dari BPN Prabowo-Sandiaga. Hal ini menyusul pembentukan tim gabungan penyidik kasus Novel Baswedan oleh Polri.

Menurut BPN Prabowo-Sandiaga, tim gabungan ini disiapkan sebagai jawaban andai Jokowi mendapatkan pertanyaan soal kelanjutan kasus teror terhadap Novel.

"Ini kan rasa-rasanya hanya untuk menjawab kalau ada pertanyaan ke presiden tentang Novel Baswedan. Presiden bisa bilang kalau sudah ada tim baru yang dibentuk. Padahal yang dibutuhkan oleh masyarakat bukan tim baru ini, tapi TGPF sesuai permintaan Novel, KPK, dan masyarakat," ujar juru bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade.


Hal ini dibantah TKN Jokowi-Ma'ruf. Ace mengatakan pembentukan tim itu semata-mata demi mempercepat penyelesaian kasus Novel.

"Kami ingin kasus ini selesai secepatnya. Proses penyelesaiannya dilakukan secara terbuka dan transparan dengan mengedepankan aspek penegakan hukum tanpa adanya intervensi politik," kata Ace.
(tsa/idn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed