DetikNews
Sabtu 12 Januari 2019, 13:56 WIB

Kisah Pilu Gadis Kecil di Riau, Hidupi 2 Adiknya yang Masih Balita

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Kisah Pilu Gadis Kecil di Riau, Hidupi 2 Adiknya yang Masih Balita Foto: Andini (14) harus menjaga dua adiknya yang masih balita. (Chaidir Anwar Tanjung/detikcom)
Pekanbaru - Andini (14) sudah dua pekan ditinggal ibu kandungnya Ijaz (40) yang meninggal karena penyakit TBC. Sang ayah juga meninggalkannya sebelum sang ibu wafat. Kini, gadis kecil itu harus mengasuh dua adiknya yang masih balita seorang diri.

Andini beralamat di Dusun Telayap, Desa Pangkalan Tampoi, Kabupaten Pelalawan, Riau. Rumahnya hanya berdinding kayu dan berukuran tak lebih dari 3x3 meter.

Ibunya meninggal dunia pada 3 Januari ini karena mengidap penyakit TBC stadium tiga. Andini sekarang tinggal bersama adiknya Purwanti berusia 1,6 tahun dan Duratul Jannah usia 5 bulan.

"Sebelum adiknya paling kecil lahir, bapaknya sudah meninggalkan mereka. Artinya Duratul Jannah masih dalam kandungan bapaknya sudah meninggalkannya," kata Wakil Ketua Yayasan Mualaf Alrisalah, Dedi Azwandi saat berbincang dengan detikcom, di Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Sabtu (12/1/2019).



Ibunda Andini sebetulnya sudah mendapatkan bantuan dari Yayasan Mualaf Alrisalah untuk berobat ke rumah sakit. Dedi mengaku sudah sekuat tenaga membantu.

"Ada sekitar 6 anam bulan tim kita melakukan perawatan terhadap ibu Andini untuk dirujuk ke rumah sakit. Segala upaya kita bantu sesuai dengan kemampuan kami," kata Dedi.

Selama ibunya sakit, Andini terpaksa berhenti sekolah. Sejak enam bulan lalu sehari-harinya Andini harus merawat adik-adiknya.

Adik yang paling kecil mestinya mendapat asupan ASI. Namun, terlalu berisiko jika mendapat asupan ASI dari ibunda.

"Sewaktu ibunya masih hidup, kondisi kedua balitanya juga harus dijauhkan dari ibunya, karena penyakit TBC bisa menular," ujar Dedi.

Semasa ibunya sakit posisi Andini menjadi tulang punggung buat menjaga ibu dan adik-adiknya. Kondisi inilah yang memaksanya harus berhenti sekolah yang mestinya sudah duduk di bangku SMP kelas II.

Setelah ibunya meninggal, bantuan sembako mengalir buat Andini. Bantuan para dermawan membuat Andini sampai sekarang bisa bertahan.

"Kami setiap minggunya memberikan bantuan sembako buat Andini. Dana bantuan ini dari kawan-kawan yang tergabung dalam Sedekah Rombongan. Kondisi Andini memang sangat memprihatinkan. Dia cukup kuat untuk merawat kedua adiknya yang semestinya butuh perhatian kedua orang tuanya," sesal Dedi.
(cha/zak)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed