detikNews
Sabtu 12 Januari 2019, 08:28 WIB

Kisah 20 Jam 56 Menit Dikepung Kiamat Letusan Krakatau 1883

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Kisah 20 Jam 56 Menit Dikepung Kiamat Letusan Krakatau 1883     Ilustrasi Gunung Krakatau sebelum meletus hebat pada 1883 (Foto: BBC Indonesia)Foto: BBC Indonesia
Serang - Selama 20 jam 56 menit Krakatau mengamuk bagai kiamat. Langit di pesisir Selat Sunda dan Lampung gelap. Laut mengamuk dengan gelombang melebihi tinggi pohon kelapa. Suasana seperti kiamat ini mencapai puncaknya pada pukul 10.02 pagi dengan ledakan mahadahsyat pada Senin 27 Agustus 1883.

Simon Winchester di buku Krakatoa, The Day the Wolrd Exploded: August 27, 1883 dan diterjemahkan oleh Serambi pada 2006 menggambarkan ledakan 'kiamat' ini bermula sehari sebelumnya pukul 13.06 di Anyer.

Waktu itu, ada catatan seorang Belanda kepala kantor telegraf Anyer Mr. Schruit sedang mengawasi sebuah kapal. Tiba-tiba, gelegar ledakan muncul dibarengi dengan gulungan awan putih dan air laut yang naik turun. Sepersekian detik kemudian adalah langit siang yang mendadak gelap bagai malam. Orang-orang keluar rumah dengan wajah was-was penuh cemas.


Schruit yang dilanda kepanikan mengirimkan telegraf ke pejabat Belanda di Weltevreden dengan bahasa staccato telegraf.

"Hujan batu apung. Hujan abu kasar. Banjir pertama. Kapal-kapal buyar tak terkendali di pelabuhan. Gelap luar biasa. Makin gelap," tulis Schruit yang dikutip detikcom di buku Simon Winchester.

Menjelang pukul 17.00 sore, gelap pekat bahkan melanda seluruh pantai barat Jawa sampai ke Batavia.

Di Anyer sendiri ketika matahari tidak terlihat suasana nampak seperti neraka yang sesugguhnya. Udara panas, beracun membuat orang panik dan kebingungan.

"Udara yang masuk ke paru-paru panas, kotor, penuh abu, penuh belerang, beracun, membuat orang kehilangan orientasi dan bingung," tulis Simon.

Di lautan, saksi mata kapten kapal Charles Bal, W.J. Watson yang saat itu ada di Selat Sunda menggambarkan ledakan mirip artileri alat berat dengan interval 1-2 detik. Langit tiba-tiba gelap disertai hujan batu apung yang terasa panas. Suasana lebih mengerikan terjadi saat malam. Hujan pasir dan batu membutakan dan tak henti-hentinya diselingi petir. Krakatau juga terus meledak tanpa henti.

Di Teluk Lampung tepatnya di Ketimbang, seorang kontrolir Belanda Willem Beyerinck melihat kapal Loudon yang membawa cengkih dan kuli dari Anyer diombang-ambing ombak rapuh tak berdaya. Ia yang panik dan membisu, memutuskan lari ke perbukitan.

Malamnya, pukul 20.00 dituliskan bahwa pesta pora penghancuran dimulai secara gila-gilaan. Ombak mencapai ketinggian seratus kaki membuat kehancuran tak terkira. Di bukit, keluarga Belanda ini sempat menaiki pohon kelapa dan turun kembali begitu air mulai menyusut untuk lari ke tempat peristirahatan di bukit.

Seorang pelayan Beyerinck yang tiba menjelang subuh di bukit menceritakan, ombak tsunami datang kembali pada pukul 02.00. Menghancurkan kompleks keresidenan dan menenggelamkan Kota Ketimbang. Malam itu begitu mencekam, warga di atas bukit melolong penuh keputusasaan sebagian berdoa pada Tuhan.

"Di luar gubuk itu, ribuan orang menangis dan melolong putus asa. Beberapa bersikap tenang berdoa agar dibebaskan dari mimpi buruk," tulisnya.

Pada pukul 06.00 pagi serangkaian gelombang tsunami kembali datang menenggelamkan rumah-rumah di Teluk Betung di mana Tuan Residen Tinggal.

Di pagi harinya, yang terakhir datang adalah bencana utama pada pukul 10.02 saat Krakatau mencapai puncak letusan yang menghancurkan segala-galanya.

Gelombang laut yang diakibatkan letusan ini menenggelamkan seluruh pantai Jawa dan Sumatera yang berbatasan dengan Selat Sunda. Beberapa daerah seperti Tjiringin, Merak, Teluk Betung bersih disapu gelombang. Di Anyer mercusuar hancur dan hanya menyisakan fondasinya. Langit yang gelap sampai ke Batavia membawa hawa dingin karena suhu yang anjlok sampai 15 Fahrenheit.

Simon menuliskan, akibat letusan Krakatau di pagi itu, suara ledakannya terdengar sampai ribuan mil jauhnya dari Selat Sunda. Tak ada ledakan yang mengerikan yang pernah didengar manusia modern sedahsyat letusan gunung Krakatau. Awan panas bercampur gas, batu apung dan asapnya terlontar ke langit setinggi 24 mil.

"Sesudah letusan Krakatau, 165 desa hancur lebur, 36.417 orang tewas dan ribuan orang cedera. Hampir semua orang di antara mereka, desa dan penduduknya, bukan korban langsung letusan, melainkan korban efek letusan yaitu gelombang laut besar," tulis Simon.
(bri/aan)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed