detikNews
Selasa 25 Desember 2018, 16:14 WIB

Kaleidoskop 2018

36 Jam Kerusuhan Berdarah di Mako Brimob

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
36 Jam Kerusuhan Berdarah di Mako Brimob Foto ilustrasi: Markas Korps Brigade Mobil (Brimob) Polri di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta - Kerusuhan napi terorisme yang ditahan di Rutan Mako Brimob mencekam di awal Mei 2018. Insiden yang terjadi selama 36 jam itu membuat 5 polisi gugur.

"Atas nama rakyat bangsa dan negara, saya menyampaikan duka yang mendalam atas gugurnya lima anggota kepolisian dalam melaksanakan tugas dari negara. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dalam menghadapi duka ini," kata Presiden Jokowi dalam konferensi pers di Istana Bogor, Kamis (10/5/2018).

Kelima polisi yang gugur adalah Briptu Luar Biasa Anumerta Fandy Nugroho, Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji, Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli, dan Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas.

Seorang anggota Brimob bernama Bripka Iwan Sarjana sempat disandera. Namun Bripka Iwan akhirnya dibebaskan di tengah peristiwa mencekam itu.

Diawali Keributan soal Makanan

Peristiwa bermula pada Selasa sore (8/5) saat salah seorang napi ribut soal makanan. Keributan soal makanan itu diawali oleh napi teroris bernama Wawan.


"Siang atau sore, ini kan ada makanan yang dititip keluarga. Katanya nitip ke Pak Budi (petugas). Pak Budi sedang tidak tugas atau sedang keluar, jadi dicari-cari nggak ada. Dia bikin ribut, goyang-goyang, si Wawan (menanyakan) mana titipan makanannya. Ribut, ribut, sehingga memicu yang lain," ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto kepada wartawan di Mako Brimob Depok, Rabu (9/5).

Peristiwa itu disebut terjadi pukul 17.00 WIB. Pada pukul 23.50 WIB, polisi bersenjata lengkap tampak berjaga di lokasi.

Secara bertahap polisi memasang mobile security barrier hingga melakukan penutupan jalan ke lokasi. Penjagaan di Mako Brimob makin ketat.

Napi Teroris Ingin Bertemu Oman

Awalnya keributan disebut berawal dari persoalan makanan. Belakangan diketahui para napi teroris itu ingin bertemu pimpinan JAD Aman Abdurrahman alias Oman.

"Ya biasa, itu kan sebagai pimpinannya," kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Rabu (9/5).



Ditanya apakah Aman menuntut dibebaskan, Setyo menampik. Menurut dia, para napi teroris ini hanya ingin bertemu Aman. Soal tuntutan lain yang diajukan, Setyo tidak mau mengungkapnya karena proses negosiasi masih berlangsung.

"Tuntutannya nggak boleh diekspos," ujarnya.

Beberapa waktu kemudian Oman divonis mati terkait sederet aksi terorisme.

Napi Teroris Rebut Senjata hingga Siksa Polisi

Dalam melakukan kerusuhan dan penyanderaan di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, para narapidana teroris tersebut menggunakan senjata. Dari mana senjata itu didapatkan?

Wakapolri Komjen Syafruddin mengatakan para napi teroris tersebut melakukan penjebolan di dalam rutan. Para napi itu menggunakan berbagai barang yang mereka temukan untuk menjebol sekat.

"Senjata dia dapat dari mana-mana, kan dia jebol ini ke mana-mana. Dia dapat kaca dipecahkan, dia dapat besi, dia dapat apa, ini kan dijebol semua," kata Syafruddin di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis (10/5).



Para teroris itu menyandera sembilan polisi. Empat polisi berhasil dievakuasi, namun kondisinya cedera dan dilarikan ke RS Bhayangkara. Lima lainnya gugur dengan luka parah. Sementara itu, seorang polisi berhasil dibebaskan.

Lima polisi gugur setelah disandera napi teroris di Mako Brimob. Mayoritas korban tewas dibacok di bagian leher.

36 Jam Kerusuhan Berdarah di Mako BrimobFoto ilustrasi suasan Mako Brimob saat berlangsung penjagaan. (Grandyos Zafna/detikcom)

"Yang jelas, dari lima rekan yang gugur, mayoritas luka akibat senjata tajam di leher. Saya ulangi, akibat senjata tajam di leher. Luka itu sangat dalam," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen M Iqbal.

Iqbal menyebut mayoritas korban mengalami luka akibat senjata tajam di leher bagian belakang. "Seperti luka dibacok," katanya.

Para Napi Sempat Merakit Bom

Wakapolri Komjen Syafruddin menyatakan ledakan yang terdengar di Mako Brimob pagi ini adalah proses sterilisasi. Menurut Syafruddin, para napi sempat merakit bom.

"Mereka selama 40 jam melakukan penyanderaan dan mereka melakukan kegiatan-kegiatan perakitan bom dan sebagainya. Itu tadi yang diledakkan adalah hasil-hasil bom yang sudah dirakit," kata Syafruddin di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5).

Bripka Iwan Sarjana Bebas Ditukar Makanan

Bripka Iwan Sarjana berhasil dibebaskan dari penyanderaan di Mako Brimob pada Kamis (10/5/2018) sekitar pukul 00.40 WIB atau setelah 29 jam. Pembebasan Iwan dilakukan setelah polisi melakukan penawaran.



"(Penawaran) makanan, mereka minta makanan, maka kita bujuk mereka mau membebaskan," kata Irjen Setyo Wasisto.

350 Terduga Teroris Ditangkap Setelahnya

Polri mencatat lebih dari 350 terduga teroris ditangkap pascakerusuhan berdarah di Rutan Salemba cabang Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Ratusan terduga teroris itu ditangkap berdasarkan barang bukti yang ditemukan aparat.

"Yang jelas lebih dari 350 (terduga teroris) ditangkap. Ini ada barang buktinya," kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (4/9).



(bag/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com