DetikNews
Jumat 07 Desember 2018, 18:02 WIB

Rugikan Negara Rp 3,6 M, Dirut Perum Jasa Tirta II Jadi Tersangka

Samsudhuha Wildansyah - detikNews
Rugikan Negara Rp 3,6 M, Dirut Perum Jasa Tirta II Jadi Tersangka Ilustrasi KPK (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)
Jakarta - Direktur Utama Perum Jasa Tirta II (Dirut PJT II) Djoko Saputro ditetapkan tersangka KPK terkait kasus korupsi pengadaan pekerjaan jasa konsultasi. Pengadaan itu disebut KPK merugikan keuangan negara sebesar Rp 3,6 miliar.

"KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dengan menetapkan 2 orang sebagai tersangka," ucap Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (7/12/2018).

Dua orang tersangka tersebut adalah Djoko dan seorang lagi bernama Andririni Yaktiningsasi yang disebut sebagai swasta.

Kasus berawal ketika Djoko menjabat sebagai Dirut pada tahun 2016. Saat itu dia meminta dilakukan relokasi anggaran dengan cara mengalokasikan tambahan anggaran pada pekerjaan pengembangan SDM dan Strategi Korporat yang awalnya Rp 2,8 miliar menjadi Rp 9,55 miliar.

Rencana alokasi tambahan anggaran menjadi Rp 9,55 miliar itu terdiri dari Perencanaan Strategis Korporat dan Proses Bisnis senilai Rp 3,820 miliar dan Perencanaan Komprehensif Pengembangan SDM PJT II sebagai Antisipasi Pengembangan Usaha Perusahaan senilai Rp 5,730 miliar.

"Perubahan tersebut diduga dilakukan tanpa adanya usulan baik dari unit lain dan tidak sesuai aturan yang berlaku," sebut Febri.

Setelahnya, Djoko menunjuk Andririni sebagai pelaksana dari kedua proyek itu. Andririni menggunakan bendera perusahaan PT BMEC (Bandung Management Economic Center) dan PT 2001 Pangripta.




Pada akhirnya, realisasi untuk kedua proyek itu adalah Rp 5.564.413.800. Berbagai penyimpangan diduga dilakukan Djoko dan Andririni seperti nama-nama ahli dalam kontrak yang diduga hanya dipinjam dan dimasukkan sebagai formalitas, pelaksanaan lelang yang rekayasa, dan membuat penanggalan mundur dokumen administrasi atau backdate.

"Diduga kerugian negara setidak-tidaknya Rp 3,6 miliar yang merupakan dugaan keuntungan yang diterima atau setidaknya lebih dari 66 persen pembayaran yang telah diterima," sebut Febri.

Djoko dan Andririni pun dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. KPK pun sudah menggeledah sejumlah lokasi dan memeriksa saksi-saksi dalam perkara ini.
(dhn/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed