DetikNews
Jumat 07 Desember 2018, 08:04 WIB

Kementerian LHK Minta Tiga Industri Kurangi Plastik

Sudrajat - detikNews
Kementerian LHK Minta Tiga Industri Kurangi Plastik Rosa Vivien Ratnawati (Foto: Dok. KLHK)
Jakarta -

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) tengah menyiapkan peta jalan untuk mengurangi produksi sampah plastik. Selain masyarakat, peta jalan tersebut membuat target khusus yang harus dipenuhi kalangan industri.

"Dalam sepuluh tahun ke depan, kami menargetkan agar kalangan industri melakukan desain ulang terhadap produk kemasan mereka dari yang semula bahan plastic menjadi bahan baku yang mudah diurai atau didaur ulang," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati kepada detik.com, Jumat (7/12/2018).

Selain itu, dia melanjutkan, kalangan industri tertentu harus mau menerapkan kebijakan pick-back terhadap kemasan-kemasan plastik dari produk yang mereka buat. Kemasan plastik yang telah menjadi sampah harus mereka daur ulang.

Ia mengakui selama ini, perusahaan tertentu sudah melakukannya sejak bertahun-tahun silam. Produk air dalam kemasan yang pertama di tanah air, misalnya, selain mengganti bahan botol plastic yang lebih ramah lingkungan juga membeli kembali botol-botol plastik dari para pemulung. "Itu perlu dilanjutkan dan diikuti secara massal oleh kalangan industri lainnya," kata Vivien.

Ia menyebut ada tiga kategori kalangan industri yang secara khusus disasar dalam peta jalan yang tengah disusunnya. Pertama, industri manufaktur yang memproduksi aneka produk dengan kemasan berbahan plastik, seperti Unilever. Kedua, industri retail yang mencakup super market besar seperti Carrefour dan Hypermart, hingga Indomart/alfamart.

"Kayak unilever itu memproduksi shampo, sabun dan lain sebagainya dengan kemasan dari plastik. Orang belanja di supermarket juga kemudian dibawa dengan kantong plastik sekali pakai. Nah ini, ke depan mereka semua harus memikirkan bahan yang bisa didaur ulang dan ramah lingkungan," jelas Vivien.

Industri berikutnya adalah yang bergerak di sektor restoran dan perhotelan. Khusus sektor ini Vivien berharap para pengelola restoran dan hotel dapat memulainya denga tidak menyediakan sedotan plastik untuk minuman yang mereka hidangkan. Ia merujuk sebuah survey bahwa penggunaan sedotan plastik di Indonesia setiap harinya mencapai belasan juta batang. Kenyataan ini sangat memprihatinkan karena meskipun terlihat kecil dan disepelekan, jumlah sebanyak itu bila dideretkan panjangnya bisa setara jarak antara Jakarta dan Meksiko. "Mengerikan sekali, kan!," ujarnya.

Sejauh ini dia menyebut ada sebuah restoran cepat saji yang sejak tahun lalu secara swakarsa memprakarsai gerakan tanpa sedotan plastik di gerai-gerainya. Ternyata upaya mereka kemudian ditiru oleh manajamen-manajamen restoran serupa di Hong Kong, China, dan negara lainnya.


"Mulai hari ini hingga sepuluh tahun ke depan, bila ketiga sector industri tersebut bersedia mengikuti peta jalan yang kami siapkan, produksi sampah plastik kita akan berkurang hingga 70 persen," kata Vivien yang baru kembali dari Paris, mengkuti konferensi tentang bahaya Merkuri.

Untuk diketahui, Indonesia disebut-sebut sebagai negara penghasil sampah plastic terbesar ke dua di dunia setelah China. Setahun, sampah plastik di Indonesia mencapai 170 juta ton.


Tonton juga ' Kemenko Maritim: Cukai Bisa Kontrol Jumlah Plastik yang Beredar ':

[Gambas:Video 20detik]


(jat/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed