DetikNews
Jumat 07 Desember 2018, 04:30 WIB

Cerita Jokowi Saling Sapa 'Bro' dengan Emir UEA dan Qatar

Ray Jordan - detikNews
Cerita Jokowi Saling Sapa Bro dengan Emir UEA dan Qatar Foto: Rengga Sancaya
Lampung - Presiden Joko Widodo (Jokowi) cerita soal kedekatannya dengan Emir dari Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar. Bahkan gaya komunikasi mereka berlangsung cair dengan saling menyapa 'bro'.

Jokowi mengatakan, dirinya sering berkomunikasi lewat telepon dengan Emir UEA Syekh Mohammed dan Emir Qatar Tamim bin Hamad al Tsani.

"Saya sering telepon dengan Syekh Muhammed, Emir dari Uni Emirat Arab, juga dengan Emir Qatar, Syekh Tamim. Saya ingat di 2016 saat saya ke Uni Emirat Arab. Saya datang turun pesawat dijemput langsung oleh Syekh Muhammed diajak naik mobilnya beliau. Enggak boleh ada pengawalan, dia yang nyetir sendiri," kata Jokowi saat pembukaan Silaknas Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) di Mahligai Agung Convention Hall, Universitas Bandar Lampung, Kota Bandar Lampung, Kamis (6/12/2018).




Saat diajak naik mobil itu, Jokowi memperhatikan merk yang dia naiki itu, namun tak menemui merk mobil yang dia tumpangi itu. Jokowi juga mengaku saat itu dia diajak berkendara dalam kecepatan tinggi.

"Saya lihat merek mobilnya ini apa, mobilnya nggak ada mereknya. Disetiri sendiri kecepatannya lebih ari 200 km per jam. Sangat cepat tapi tidak kerasa cepatnya karena mobilnya nggak ada merknya tadi. Langsung belok ke restoran diajak makan di situ. Ini yang saya sampaikan tadi betapa pentingnya hubungan-hubungan pribadi seperti itu," katanya.




Begitu juga dengan perlakukan Emir Qatar ke dirinya. Jokowi mengaku sering saling telepon dan menyapa 'bro'.

"Dengan Syekh Tamim, Emir Qatar, juga sama. Sekarang kalau saya telepon dengan beliau-beliau ini manggilnya kalau ke saya ngomongnya 'brother', saya ngomong ke beliau juga 'brother'. Kalau kita, 'Bro'," katanya.

"Hubungan-hubungan seperti ini saya kira sangat diperlukan sehingga ada keseimbangan investasi. Jangan negara-negara tertentu saja yang mendominasi, tetapi kita memerlukan juga keseimbangan. Jangan sampai nanti negara tertentu karena goncangan ekonomi global ekonominya turun kita menjadi ketergantungan pada satu atau dua negara," tambahnya.
(jor/zak)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed