Postingan soal Capres Picu Pembunuhan, Tim Prabowo Minta Setop Provokasi

Postingan soal Capres Picu Pembunuhan, Tim Prabowo Minta Setop Provokasi

Tsarina Maharani - detikNews
Selasa, 27 Nov 2018 16:47 WIB
Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade (Zhacky/detikcom)
Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade (Zhacky/detikcom)
Jakarta - Anggota Panitia Pemungutan Suara di Sampang, Subaidi (40), jadi korban tewas penembakan yang dipicu komentar di status Facebook mengenai capres. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berharap kasus ini menjadi pelajaran bagi seluruh pihak tanpa kecuali untuk berhenti melakukan provokasi.

"Ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak bahwa harus mengakhiri dan mengurangi diksi yang menghina pribadi dan memprovokasi alias jadi 'kompor'," kata juru bicara BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, kepada wartawan, Selasa (27/11/2018).

Harapan ini dikhususkan Andre kepada Presiden Joko Widodo. Menurut dia, Jokowi harus menjadi panutan dalam menciptakan situasi politik damai.

Andre pun mengungkit pernyataan Jokowi soal 'politikus sontoloyo' dan 'menabok' orang yang menyebarkan isu hoax PKI.

"Untuk itu, semua menenangkan diri, terutama presiden harapan kami. Karena presiden adalah kepala negara kita yang harus jadi suri teladan bangsa Indonesia," sebut politikus Gerindra itu.



"Kalau presiden terus, mohon maaf Pak Jokowi terindikasi jadi 'kompor', misal 'sontoloyo', mau 'nabok', tanpa menurunkan tensi dan tidak memakai diksi yang mempersatukan nantinya takut di bawah akan seperti ini," imbuh Andre.

Namun di sisi lain, Andre juga mengimbau pendukung Prabowo-Sandi tetap bersikap santun menghadapi perbedaan pilihan politik. Ia mengingatkan keutuhan bangsa tetap jadi yang utama.

"Kami juga tentu meminta teman-teman pendukung Pak Prabowo menahan diri dalam mengeluarkan diksi-diksi seperti itu. Karena bagaimanapun kita berbeda pilihan, pandangan, jagoan presiden, tapi kita adalah bangsa Indonesia," tegas Andre.

Idris (30) menembak Subaidi (40) pada Rabu (21/11) lalu. Persoalan ini bermula ketika akun Idris berkomentar di laman Facebook seseorang yang mem-posting 'Siapa pendukung Jokowi yang ingin merasakan pedang ini'. Akun milik Idris memberikan komentar 'Saya pingin merasakan tajamnya pedang tersebut'.

Keesokan harinya, Idris didatangi seseorang yang tidak terima atas komentar Idris di laman Facebook itu. Kepada orang yang mendatangi itu, Idris mengatakan akun Facebook miliknya sudah tidak bisa dia kendalikan karena ponsel miliknya sudah dijual. Sehari kemudian, viral video yang memperlihatkan Idris saat didatangi orang tersebut. Polisi menyatakan posting-an di video itu dibumbui kalimat yang menyudutkan dan mengancam Idris. Idris, yang tidak terima dengan video itu, kemudian menghampiri Subaidi, yang diketahui merupakan pengunggah video itu. Idris menembak Subaidi di dada kiri hingga akhirnya tewas. (tsa/fjp)