DetikNews
Rabu 21 November 2018, 08:15 WIB

Mengapa Ibu Pembunuh 3 Anak Kandung Tetap Divonis 4,5 Tahun Bui?

Aditya Mardiastuti - detikNews
Mengapa Ibu Pembunuh 3 Anak Kandung Tetap Divonis 4,5 Tahun Bui? Ilustrasi (Ari/detikcom)
Denpasar - Permohonan banding jaksa yang menuntut Ni Luh Putu Septyan Parmadani (32) selama 19 tahun penjara ditolak. Alhasil, guru itu tetap menjalani hukuman 4,5 tahun karena membunuh tiga anaknya.

"Menimbang bahwa jaksa penuntut umum kurang atau tidak memahami kondisi psikis/kejiwaan yang menyebabkan terdakwa melakukan tindak pidana terhadap ketiga anak kandungnya sendiri. Kondisi tersebut diduga akibat trauma mendalam sejak pemikiran pertama di pernikahan pertamanya, di mana sang suami sering memberikan perlakuan kasar, memukul kepala, membentak, hingga mengancam untuk menceraikan dan tidak pernah menafkahi terdakwa selaku istri," demikian bunyi pertimbangan putusan banding sebagaimana dikutip detikcom, Rabu (21/11/2018).


Vonis itu diketuk pada Senin (19/11) lalu oleh ketua majelis Sutoyo dengan dan hakim anggota Nyoman Sumaneja dan Istiningsih Rahayu. Majelis menyatakan Septyan bersalah membunuh ketiga anaknya. Namun memperhatikan faktor psikis dan psikologis terdakwa.

"Menimbang akumulasi dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialami oleh terdakwa selama ini membuat terdakwa mengalami depresi berat sehingga menunjukkan guncangan dalam dirinya akibat lemahnya dukungan sosial untuk dapat menjadi katarsis (pelepasan kecemasan) atas beban yang dipikulnya," sambungnya.


Majelis hakim tetap pada putusan agar Septyan divonis 4,5 tahun. Ini menguatkan putusan hakim PN Gianyar yang diketuai Ida Ayu Sri Adriyanthi Astuti Widja dengan anggota Diah Astuti dan Wawan Edi Prastiyo.

"Bahwa tuntutan pidana penjara selama 19 tahun dari jaksa penuntut umum terhadap terdakwa menunjukkan perspektif jaksa penuntut umum yang melepaskan konteks sosial dan psikologis dari terdakwa dengan lebih mengedepankan pada pemberian efek jera. Padahal, kehilangan tiga anaknya dan kegagalan bunuh diri setelah menghabisi nyawa anak-anaknya telah menjadi sanksi untuk dirinya sebagai seorang pribadi, dan terdakwa tidak memiliki apa-apa lagi yang berharga dalam hidupnya. Sanksi berat justru akan menjadi trigger bagi terdakwa untuk melakukan tindakan destruktif bagi dirinya di masa depan," ujarnya.

Kasus ini bermula ketika rumah tangga Septyan dengan I Putu Moh Diana pada 2011 berujung keretakan dan sempat cekcok berkali-kali. Akibatnya, ibu tiga anak itu putus asa sehingga dia mengambil jalan pintas untuk membunuh anaknya dan melakukan upaya bunuh diri.


Pada 8 Februari 2018, sekitar pukul 13.00 Wita, Septyan membeli obat nyamuk cair dan disimpan di lemari pakaian. Saat tengah malam, Septyan mengunci pintu kamar. Sejurus kemudian, ia membekap anak pertamanya dengan kain sehingga meninggal karena kekurangan napas. Hal itu dilakukan juga kepada anak kedua dan anak ketiga.

Septyan lalu berusaha bunuh diri dengan menenggak obat nyamuk cair. Namun aksi tersebut ketahuan penghuni rumah dan kasus itu pun terungkap.
(ams/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed