DetikNews
Rabu 14 November 2018, 08:53 WIB

Ngojek Rp 1,5 Juta, Ini Suka-Duka dr Widya Tugas di Pedalaman

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Ngojek Rp 1,5 Juta, Ini Suka-Duka dr Widya Tugas di Pedalaman Dokter Widya (ist.)
Makassar - Dokter Widyastuti mengabdikan diri menjadi dokter di Rampik, yang masuk wilayah terpencil di Luwu Utara, Sulsel. Dokter Widya mengatakan dia ingin menunjukkan bekerja di daerah terpencil bukanlah sebuah kutukan atau hukuman.

"Saya ingin menunjukkan betapa nikmatnya kerja di daerah terpencil. Tak kenal maka tak sayang. Saya kecewa ada teman-teman yang tahu dapat daerah terpencil, langsung minta pindah ke kota," kata Widya kepada detikcom, Rabu (14/11/2018).

Gadis asal Luwu ini menyebut beberapa orang merasa terlalu takut bekerja di daerah terpencil. Padahal ada banyak pengalaman yang didapatkan bersama masyarakat di sana. Karena itu, dia berharap ada regulasi ke depan dari pemerintah soal penempatan PNS di daerah terpencil, khususnya soal lamanya penugasan.

"Dengan adanya waktu penugasan, misalnya selama 3 sampai 5 tahun, maka seorang PNS dapat menyusun program kerja untuk masyarakat," ungkapnya.
Ngojek Rp 1,5 Juta, Ini Suka Duka dr Widya Tugas di Pedalaman

Dia membagikan pengalaman soal cara mengubah kebiasaan warga Rampik untuk peduli soal kesehatan. Pertama kali Widya bertugas, warga di sana masih percaya pada mitos. Apalagi, sebelum kedatangannya, wilayah itu tidak memiliki dokter lagi selama dua tahun.

"Lambat laun mereka sadar kesehatan. Namun masalah selanjutnya adalah soal waktu layanan kesehatan," ungkapnya sambil tertawa.

Waktu layanan kesehatan ini dianggap Widya cukup lucu dan kadang kala menjengkelkan. Warga yang mata pencariannya bekerja di ladang tidak mengenal waktu saat hendak meminta pengobatan. Mereka cenderung datang saat sore, malam hari, tengah malam, hingga subuh.

"Awal saya bekerja tidak mengenal jam pelayanan. Saya upayakan melayani mereka, meski itu waktu subuh saat saya masih di dalam selimut karena cuaca dingin," terangnya.

Dokter Widya diketahui bertugas di wilayah terpencil yang jaraknya kurang-lebih 100 km dari ibu kota Kabupaten Luwu Utara, Masamba. Untuk jalur darat, satu-satunya kendaraan yang bisa digunakan adalah kendaraan roda dua atau dengan menyewa ojek. Namun harga ojek di sana bisa masuk daftar harga ojek paling mahal se-Indonesia.

"Saya tahun 2014 menyewa ojek ke Rampik. Harga menyewa ojek untuk sampai ke puskesmas saya senilai Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta. Sekarang karena ada pelebaran jalan, sedikit turun, Rp 500 ribu," ungkapnya.
(fiq/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed