DetikNews
Sabtu 10 November 2018, 02:05 WIB

Laporan Dari Wellington

Diplomasi Budaya ala Tantowi Yahya

Andi Abdullah Sururi - detikNews
Diplomasi Budaya ala Tantowi Yahya Foto: andi sururi
Wellington -

Saya yakin betul bahwa budaya itu adalah instrumen diplomasi yang sangat powerfull. Tidak kelihatan, tapi ketika menghujam sampai ke relung hati yang paling dalam.

Tantowi Yahya mengatakan hal itu saat mengundang rombongan kami untuk bersantap malam di wisma kedutaan RI di Wellington, Selandia Baru, pada hari Kamis (8/11) lalu.

Ia sedang bersemangat menunggu digelarnya sebuah konser musik kolaborasi yang digagasnya, yang ia yakini akan menjadi sebuah cara ampuh dalam sebuah hubungan diplomatik antarnegara, dalam kapasitasnya sebagai duta besar Republik Indonesia untuk Selandia Baru, sejak Maret 2017.

Diungkapkan Tantowi, dirinya diberi tugas khusus oleh Presiden Joko Widodo untuk "menempatkan" Indonesia di antara negara-negara Pasifik. Sebab, selama ini Indonesia lebih dikenal sebagai negara Asia ketimbang juga negara Pasifik.

"Ada satu fakta besar yang tidak kita kapitalisasi selama ini, bahwa Indonesia adalah pasifik. Secara geografis, dua provinsi di Papua dan Maluku, plus Nusa Tenggara Timur, terletak di Pasifik. Sehingga klaim bahwa kita bangsa Pasifik itu benar, tapi tidak kita mainkan," tutur pria 58 tahun itu.

Misi itu yang kemudian coba diwujudkan Tantowi melalui pentas budaya. Konser musik yang digagasnya itu ditampilkan di The Opera House, Wellington, pada Jumat (9/11) malam waktu setempat - dan diberi nama The Symphony of Friendship.

Diplomasi Budaya ala Tantowi YahyaFoto: a2s

Tiga penyanyi asal Indonesia --Edo Kondologit, Andmesh Kamaleng, Gita Gutawa-- disatupanggungkan dengan dua penyanyi top Selandia Baru dari suku asli Maori: Maisey Rika dan Tama Waipara. Mereka dikolaborasikan dalam orkestra musik yang diaransemen dan dikonduktori Erwin Gutawa.

Baca juga: Sebuah Simfoni Persahabatan Indonesia - Selandia Baru

Yang bikin surprise, selama pertunjukan Tantowi tidak duduk manis di barisan penonton terdepan atau menjadi VIP. Seorang duta besar bahkan memandu sendiri acara konser musik tersebut -- dan dia dengan sangat fasih memainkan peran tersebut, dengan bahasa Inggris yang sempurna. Tentu saja, karena Tantowi di masa mudanya lebih dulu dikenal sebagai seorang presenter televisi dan pengggiat dunia hiburan, sebelum terjun ke kancah politik.

Gaya Tantowi tak pernah berubah. Ia lucu, pandai memilih kata-kata, piawai dalam mengartikulasikannya, dan tentu saja, wajah yang tak pernah tanpa senyum lebar.

"Dia duta besar paling gembira yang pernah saya kenal," ucap presenter Farhan, yang juga ikut dalam rombongan kami dari Jakarta.

Tapi Tantowi tidak menjadi host untuk sekadar memperkenalkan para penampil. Ia terus menyampaikan pesan-pesan yang kuat bahwa Indonesia (dan Selandia Baru) adalah satu rumpun bangsa Pasifik.

"Orang tidak tahu lagi di mana bedanya, karena secara budaya memang tidak ada bedanya. Lagu-lagu Ambon sama dengan di Maori, Kepulauan Salomon dengan Papua," sebut dia.

Tantowi, sang dubes itu, memang menjadi bintang khusus pada gelaran malam ini. Dan, ya Tuhan, dia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk tidak bernyanyi - tapi kali ini melantunkan sebuah lagu Manado, bukan country (!)- walaupun di menit-menit sebelumnya dia berjanji tidak akan bernyanyi di panggung malam ini, tapi dia melanggarnya juga.

Tantowi, Erwin, Gita, Edo, Andmesh, dan The Symphony of Friendship telah menyelesaikan sebuah misi malam ini, yang disaksikan 1.000-an lebih penonton, bertepatan dengan perayaan tahun ke-60 hubungan diplomatik antara Indonesia dan Selandia Baru.

"Sangat luar biasa apa yang diprakarsai Pak Tantowi selaku dubes. Ini satu kegiatan yang luar biasa. Menurut saya, melalui musik, dia membangun satu bahasa, yaitu bahasa hati. Sebagai sesama negara pasifik, melalui pengertian, saling menghormati, bagaimana membangun kerja sama yang lebih positif baik ekonomi maupun yang lain. Saya bangga sekali," ucap Rachmat Gobel, pengusaha dan mantan menteri pedagangan yang turut menyaksikan konser di Wellington ini.

Diplomasi Budaya ala Tantowi YahyaFoto: andi sururi

"Sebagai orang yang pernah studi dan tinggal di sini, selama puluhan tahun hubungan Indonesia - Selandia Baru, ini adalah salah satu puncak hubungan diplomatik itu. Ternyata dengan budaya ini banyak kesamaan dan banyak hal yang bisa share," timpal presenter Ferdy Hasan.

"Saya sangat optimis, ke depannya kesamaan budaya ini bisa membawakan hal-hal yang lebih baik lagi untuk berbagai hal."

Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo, tak ketinggalan memberikan penilaian untuk program tersebut.

"Dahsyat, luar biasa. Saya memberi apresiasi luar biasa kepada Pak Dubes yang telah melakukan diplomasi yang sangat efektif, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Melalui musik dan kebudayaan, jauh lebih efektif untuk mempererat hubungan kedua negara.

"Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, (diplomasi) melalui bahasa yang universal. Bagi saya musik dan budaya merupakan ungkapan kasih sayang dan cinta. Dengan kedua hal itu kita bisa mempererat lagi hubungan kedua negara," simpul Bamsoet.




(a2s/van)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed