DetikNews
Jumat 09 November 2018, 08:41 WIB

Gonjang-ganjing Truk Batu Bara Via Jalur Khusus Vs Jalan Umum

Raja Adil Siregar - detikNews
Gonjang-ganjing Truk Batu Bara Via Jalur Khusus Vs Jalan Umum Foto: Truk pembawa batu bara (raja/detikcom)
Palembang - Pemprov Sumatera Selatan telah memastikan truk batu bara tak lagi boleh lewat jalan umum. Tetapi Pemprov akan mengevaluasi kebijakan tersebut 2 minggu ke depan.

Evaluasi ini disampaikan Sekda Provinsi Sumatera Selatan, Nasrun Umar, Nasrun menyebut persoalan truk batu bara yang melintas jalan umum bukanlah masalah baru. Namun telah lama jadi polemik di masyarakat.

"Persoalan angkutan batu bara ini bukan persoalan baru. Keputusan ini juga akan menimbulkan dampak jangka panjang," terang Nasrun Umar saat meninjau jalan khusus truk batu bara Muara Enim dan Lahat, Kamis (8/11/2018).

Lebih lanjut, Nasrun menilai jika setiap keputusan yang telah diambil Pemprov pasti memiliki resiko. Termasuk terkait tersendatnya pasokan batu bara yang kini membuat resah produsen listrik di pulau Jawa.

"Kalau sudah kita lakukan, nanti pasti ya ada evaluasi 2 minggu kedepan. Kita liat dampak yang lebih banyak nanti itu apa. Yang jelas setiap kebijakan itu pasti ada konsekuensinya," kata Nasrun.

Akibat dari pemberlakuan kebijakan itu, sejumlah produsen listrik swasta yang ada di Indonesia mengaku akan merugi. Hal ini karena batu bara sebagai bahan baku utama akan tersendat sampai ke lokasi.

"Kalau itu mempengaruhi listrik yang ada di Jawa dan sekitarnya sudah pasti. Tapi tetap kami utamakan mana yang terbaik, tetapi kalau nanti ada yang lebih penting ya kita evaluasi lagi," katanya.

Meskipun begitu, Nasrun tak menyebut secara rinci evaluasi terhadap kebijakan tersebut. Apakah terkait kebijakan yang sudah dikeluarkan atau terkait regulasi penerapan di lapangan terhadap sanksi dan pengembalian truk ke jalan umum.

Berdasarkan pantauan hari pertama ini, terlihat masih belum ada truk batu bara milik penambang umum yang melintasi jalan khusus yang dikelola perusahaan.

Padahal jalan yang ada di Desa Tanjung Jambu, Kabupaten Lahat, itu merupakan satu-satunya jalan khusus truk batu bara yang baru dibangun sepanjang 117 Km.

Adapun beberapa truk batu bara lewat di jalan itu, yakni hanya truk pembawa batu bara yang sudah lama menjadi mitra dari Titan itu sendiri. Bahkan mereka sudah lama memggunakam jalan itu sebagai jalan khusus angkutan batu bara.

Sementara itu, untuk jalan lintas Muara Enim, Lahat dan Prabumulih sampai ke Palembang, terlihat tidak ada satupun truk batu bara melintas. Hal ini sesuai dengan telah diberlakukannya aturan truk batu bara melintasi jalan umum.

"Kita lihat tadi, rasanya sudah tidak ada lagi truk melintas di jalan umum. Inilah salah satu dampak positifnya, jalan tak ada lagi yang macet karena truk," imbuh Nasrun.

Hingga kini, Pemprov Sumatera Selatan masih terus mencari yang solusi terbaik bagi masyarakat dan pengusaha. Hal ini agar keduanya sama-sama mendapat manfaat dari tambang emas hitam itu.

"Prinsipnya pemerintah mencari solusi yang terbaik untuk masyarakat. Tetapi juga harus cari win-win solution untuk para pengusaha agar bisnis tetap jalan," katanya lagi.

Ke depan, Nasrun berharap setiap ada investor batu bara masuk wajib untuk menyertakan ketersediannnya untuk melintas di jalanan khusus batu bara. Termasuk harus ikut membangun jalur khusus batu bara agar tidak lagi lewat jalan umum.

Untuk diketahui, Gubernur Herman Deru secara resmi telah mencabut peraturan truk batu bara boleh melintas di jalanan umum. Akibat kebijakan itu, pengusaha banyak yang mulai resah dan mengaku akan merugi.

Kini kebijakan Gubernur Sumsel, Herman Deru menjadi polemik. Banyak dari para pengusaha menilai kebijakan itu teralalu terburu-buru dan menimbulkan dampak negatif ke depannya.
(ras/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed