DetikNews
Jumat 09 November 2018, 08:19 WIB

Melihat Desa Celuk Bali yang Ratusan Tahun Bikin Kerajinan Perak

Aditya Mardiastuti - detikNews
Melihat Desa Celuk Bali yang Ratusan Tahun Bikin Kerajinan Perak Foto: Sentra industri perak Celuk (dita/detikcom)
Gianyar - Berwisata ke Bali tak lengkap bila belum membeli oleh-oleh perhiasan perak di Desa Celuk, Gianyar. Desa Celuk ini merupakan desa yang terkenal sebagai pengrajin perak di Pulau Dewata.

Butuh waktu sekitar satu jam berkendara dari Bandara Ngurah Rai untuk menuju ke Desa Celuk. Wisatawan bisa menghemat waktu bila melalui Jl By Pass dibandingkan melalui jalan kota.

Tiba di Jl Raya Celuk wisatawan akan mudah dijumpai aneka toko yang menjual perhiasan perak maupun emas. Tak heran, kawasan ini memang sudah dikenal sebagai sentra kerajinan perak sejak lebih dari satu abad lalu.

Beberapa toko perhiasan itu mencantumkan membuka workshop kerajinan perak hingga mereka juga membuka 'dapur' tempat perhiasan-perhiasan itu diproduksi. Tak semua pengrajin di Desa Celuk masih bersifat tradisional, beberapa di antaranya sudah menggunakan teknologi modern untuk membuat produknya.

Untuk diketahui warga Desa Celuk ini sedang mengajukan hak paten berupa indikasi geografis ke Kementerian Hukum dan HAM. Perbekel Desa Celuk Nyoman Rupadana mengatakan pengajuan paten itu untuk melestarikan kerajinan perak Celuk.

"Ini salah satu proses pelestarian, karena kan kerajinan perak di Celuk ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu," ujar Nyoman saat ditemui di kantornya, Rabu (7/11/2018).

Nyoman baru saja kembali dari acara desa di salah satu sungai ketika ditemui detikcom. Dia juga mengajak Ketua Celuk Design Center (CDC) Made Megayasa untuk menerangkan soal pengajuan paten tersebut.

Dengan ramah keduanya menjelaskan soal alasan pengajuan kerajinan perak di Celuk. Salah satu alasannya adalah kerajinan perak di Celuk sudah dikenal sejak lebih dari satu abad silam.

"Menginventarisir semua permasalahan perak, kami telusuri ada perak yang usianya lebih dari satu abad. Dulu dipakai untuk persembahan ke puri (kerajaan), sehingga apa yang menjadi hasil dari kami tempo dulu diminati raja. Di sana mulanya tertanam di Celuk ada kerajinan perak tahun 1915, kemudian limpahan pariwisata Bali 1930 mengangkat lagi (Celuk sebagai pengrajin perak)," kata Made.

Made menambahkan meski Desa Celuk tak memiliki tambang perak, namun daerah itu sudah dikenal sebagai sentra pengrajin perak dan emas. Dulu bahan yang dipakai adalah koin-koin dari zaman penjajahan. Made sendiri mengaku merupakan generasi kelima di keluarganya yang menjadi pengrajin perak.

"Di Celuk dari dulu sudah mengenal kalau bicara perak Bali pasti Celuk. Perak di domestik perak Bali, perak Celuk. Itu kan diinformasikan secara legal belum ada," terangnya.

Keduanya dengan kompak mengatakan hak paten ini merupakan salah satu cara untuk mewujudkan dan melindungi motif-motif khas Celuk yang berupa motif bun, jawan, buah gonda dan motif liman paya. Mereka juga mengatakan sedikit demi sedikit tim CDC bersama pemerintah desa mulai menginventarisir motif-motif khas Celuk untuk didaftarkan menjadi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

"Kami 2017 mendaftarkan HAKI kerajinan Celuk 20 motif dari hampir ratusan motif. Itu idaman kami sejak 2012 untuk meng-indikasigeografiskan, mulanya kan terganjal aturan karena harus menghasilkan bahan sementara Celuk bukan daerah tambang perak. Dengan regulasi baru bahan baku tidak diwajibkan ditambah dengan keadaan lingkungan alam kalau sudah ada produk unik, bahan alam dan SDM itu bisa diajukan sebagai indikasi geografis," tuturnya.
(ams/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed