DetikNews
Kamis 08 November 2018, 08:52 WIB

Yusril: Draf Aliansi yang Disusun Ulama Tak Direspons Prabowo

Erwin Dariyanto - detikNews
Yusril: Draf Aliansi yang Disusun Ulama Tak Direspons Prabowo Foto: Yusril Ihza Mahendra (Ari Saputra)
Jakarta - Ketum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menyebut koalisi yang dibangun kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tidak jelas formatnya. Yusril lalu bicara soal 'draf aliansi' dari ulama yang tak direspons Prabowo.

Yusril mengungkit 'draf aliansi' itu guna menanggapi pernyataan Ketua DPP Partai Gerindra Habiburokhman yang mempertanyakan pernyataannya soal pemilu di Indonesia dan di Malaysia. Menurut Yusril, wajar saja dirinya berbicara tentang koalisi Prabowo dan membandingkannya dengan pemilu di Malaysia.

"Tidak pernah saya menyamakannya, tetapi dalam hal membentuk 'koalisi' (yang sebenarnya tidak ada dalam sistem presidensial) perbandingan dengan Malaysia itu akan banyak membantu dalam menyusun 'koalisi' dalam pemilu serentak di Indonesia," kata Yusril dalam keterangannya, Kamis (8/11/2018).


"Sebagai calon--atau bahkan sekarang mungkin sudah--ketua koalisi, saya menyarankan kepada Pak Prabowo dan Pak Sandi agar mengundang ketua-ketua partai dan mendiskusikan format koalisi seperti apa yang akan disepakati bersama antarpartai. Kalau partai-partai hanya diajak koalisi mendukung paslon Prabowo-Sandi tanpa format yang jelas, sementara pada detik yang sama rakyat memilih presiden dan wapres serta memilih caleg pada semua tingkatan, maka pembagian 'peta dapil' menjadi sangat penting sebagaimana dapat dicontoh sebagai perbandingan dari pemilu di Malaysia," imbuh Yusril.

Menurut Yusril, di suatu dapil di Malaysia tidak akan terjadi tabrakan antara sesama partai koalisi. UMNO atau Pakatan Harapan katanya, tak akan 'bertabrakan' karena kesepakatan telah dibangun lebih dahulu.

"Dalam 'koalisi' di sini, di satu pihak anggota koalisi disuruh all out kampanyekan Prabowo-Sandi, tetapi dalam pileg di suatu dapil sesama anggota koalisi saling bertempur untuk memperoleh kemenangan bagi partainya. Nanti yang akan terjadi adalah Prabowo-Sandi menang pilpres, tetapi dalam pileg yang sangat diuntungkan adalah Gerindra, yang kemungkinan akan menjadi partai nomor 1 atau nomor 2. Partai-partai anggota koalisi yang lain bisa babak belur. Ini saya katakan dalam pileg di dapil, PBB bisa 'digergaji' sama Gerindra," beber Yusril.


Pakar hukum tata negara itu lantas berbicara soal sarannya kepada Prabowo terkait polemik koalisi tersebut. Di sinilah Yusril mengungkit soal 'draf aliansi' yang dibahas bersama ulama bahkan dikirim ke Habib Rizieq Syihab. Namun, lanjut Yusril, draf tersebut tak pernah mendapat respons dari Prabowo.

"Saya berharap ketua koalisi Prabowo undang semua ketua partai koalisi bahas masalah ini agar semua peserta koalisi merasa nyaman bersama-sama berjuang dalam koalisi. Namun kalau ketua koalisi tidak pernah mau membahas masalah ini, saya menganggap ketua koalisi hanya mau enaknya sendiri, tanpa peduli dengan nasib peserta koalisi lainnya," sebut Yusril.

"Saran ini sudah saya sampaikan ke Pak Prabowo melalui Pak Sandi, tapi sampai hari ini tidak pernah ditanggapi. Saya utuskan Kaban dan Ferry Noor bertemu Habib Rizieq bahas masalah ini. Hasilnya, sejumlah tokoh dan ulama merumuskan 'draf aliansi' di rumah KH A Rasyid Abdullah Syafii. Draf itu dilaporkan ke HRS oleh Munarman dan dikirimkan tanggal 13 Oktober 2018 ke Pak Prabowo untuk direspons. Hingga kini tidak ada respons apa pun dari beliau," jelas dia menambahkan.
(gbr/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed