DetikNews
Rabu 24 Oktober 2018, 11:47 WIB

Dukungan Caleg Pendukung Jokowi dan Prabowo Dinilai Rentan Goyang

Erwin Dariyanto - detikNews
Dukungan Caleg  Pendukung Jokowi dan Prabowo Dinilai Rentan Goyang Penelitis CSIS Arya Fernandes (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Sejumlah calon anggota legislatif dari Partai Berkarya memilih fokus untuk lolos parliamentary treshold 4 persen. Sebagian besar dari mereka tak peduli dengan pilihan partai yang mendukung calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Sebelumnya kader PAN di daerah disebut juga menolak mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno karena pasangan tersebut dianggap tidak merepresentasikan partai itu. Sekjen PAN Eddy Suparno meluruskan kabar tersebut sehari kemudian.



Peneliti CSIS Arya Fernandes mengatakan Caleg dari partai menengah yang akan bertarung di Pemilu Serentak 2019 memang menghadapi dilema. Pertama mereka harus berjuang agar partainya lolos ambang batas parlemen, 4 persen, bekerja agar dirinya terpilih menjadi anggota legislastif, dan di saat yang sama harus kampanye untuk calon presiden dan wakil presiden.

Dalam kondisi seperti itu, menurut dia akan membuat para Caleg tidak loyal pada keputusan partai. Fenomena ini akan terjadi di dua kubu baik Joko Widodo (Jokowi) - KH Ma'ruf Amin maupun Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.

"Karena mereka (Caleg) perlu berhitung, mereka perlu lolos ke parlemen. Kalau ada di dapil bukan basis capres yang didukung oleh partai mereka, kemudian mengkampanyekan capres tersebut itu sama saja bunuh diri," kata Arya dalam perbicangan dengan detikcom, Rabu (24/10/2018).



Ia menegaskan bahwa, fenomena tidak loyalnya caleg ini bukan karena membangkang dari keputusan partai. Tetapi mereka butuh cari selamat agar partainya lolos ambang batas parlemen dan dirinya juga terpilih menjadi anggota legislatif.

Para caleg dari partai menengah ini sadar tidak akan mendapatkan coattail effect (efek ekor jas) dari Jokowi-KH Ma'ruf mau pun Prabowo-Sandiaga Uno. Efek tersebut hanya akan dinikmati PDIP dan Partai Gerindra sebagai pemegang saham utama capres dan cawapres 2019.

"Sehingga mereka (caleg partai menengah) harus putar otak dan strategi untuk bisa kampanye. Ini bukan pembangkangan, ini semacam dilema," papar Arya.

Fenomana caleg tak loyal ini didukung juga adanya kemungkinan split voting dari pemilih. Yaitu, pemilih memiliki pilihan berbeda di Pileg dan Pilpres. "Misalnya memilih capres dari partai X, tetapi calegnya berbeda bukan dari partai X," kata Arya.

Coattail Effect Capres dan Cawapres

Bagi caleg dari PDIP dan Gerindra bisa langsung tancap gas dengan menyasar daerah-daerah di mana pada Pemilu 2014 lalu Jokowi atau Prabowo menang. Tapi para caleg di luar partai itu akan berusaha merebut Coattail Effect dari pasangan capres dan cawapres.

Caranya dengan berebut membawa dan mendampingi capres-cawapres saat kunjungan ke daerah. Mereka berharap capres dan cawapres itu bisa menjadi vote getter. Hal ini yang kemudian dilakukan PKS seperti tercermin dalam suratnya tertanggal 17 September 2018. Dalam surat itu tertera keterangan bahwa anggota Fraksi PKS diminta memberdayakan sumber daya yang dimiliki serta menginisiasi dan mengoptimalkan kampanye cawapres Sandiaga Uno.

"Kesepakatan di koalisi bahwa Pak Sandi Uno mundur dari Partai Gerindra dan menjadi 'milik bersama' partai-partai koalisi," kata Direktur Pencapresan PKS Suhud Alynudin.

Suhud mengatakan ada keuntungan tersendiri jika PKS mengoptimalkan kampanye Sandiaga. Katanya, PKS akan mendapatkan 'efek ekor jas' dari Pilpres 2019.


Simak Juga 'Karena Hoax Ratna, Jokowi Dapat Dukungan dari Swing Voters':

[Gambas:Video 20detik]



(erd/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed