DetikNews
Jumat 12 Oktober 2018, 21:35 WIB

Babak Baru Kasus Fadli Zon Ubah Lagu 'Potong Bebek Angsa'

Marlinda Oktavia Erwanti, Samsudhuha Wildansyah - detikNews
Babak Baru Kasus Fadli Zon Ubah Lagu Potong Bebek Angsa Ilustrasi Fadli Zon (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta - Kasus video 'Potong Bebek Angsa' yang diunggah Fadli Zon kini benar-benar diproses polisi. Dimulainya proses laporan ini menjadi babak baru isu video sindiran politik itu.

Fadli Zon dilaporkan ke polisi oleh juru bicara PSI Rian Ernest pada Selasa (25/9) lalu. Laporan PSI itu terdaftar dalam nomor LP/B/1189/IX/2018/BARESKRIM.

"Saya nggak takut sedikit pun," kata Fadli menanggapi di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (27/9/2018).


Lirik lagu dalam video 'Potong Bebek Angsa' yang diunggah Fadli berisi penilaian kegagalan mengurus bangsa, kritik soal fitnah terhadap HTI dan FPI, serta pihak yang gagal mengurus bangsa dan memfitnah HTI serta FPI itu disebutnya sebagai PKI. Pihak yang disebut Fadli itu ingin dua kali dan takut diganti Prabowo-Sandi.

Fadli menilai dia tak melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Soal sebutan PKI, menurutnya, dia perlu terus mengkampanyekan bahwa PKI adalah partai terlarang. Dia berharap hukum tak menjadi alat politik untuk menghukumnya karena unggahan video itu.


"Soal PKI kan PKI jelas itu adalah partai terlarang. Sebagai partai terlarang kewaspadaan terhadap itu harus terus didengungkan, ada TAP MPRS No 25 Tahun 1966, ada UU No 27 Tahun 1999," kata Fadli.

Politikus PSI Rian Ernest dipanggil Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri selaku pelapor. Dia pun memenuhi panggilan pertama itu dan datang ke Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim, Cideng, Jakarta Pusat, Jumat (12/10) pukul 09.00 WIB tadi.

"Sebenarnya bukan diperiksa, tapi lebih ke wawancara interview karena saya pelapornya," kata Ernest kepada wartawan.


Dia menyampaikan kemuakannya terhadap Wakil Ketua DPR dari Partai Gerindra itu. Menurutnya, apa yang dilakukan Fadli, yakni mengunggah video 'Potong Bebek Angsa', adalah tindakan yang melanggar aturan.

"Jadi dialog saya dengan Bung Fadli beliau bersikukuh ini kan kreativitas. Saya sampaikan ke Bung Fadli, kalau kreativitas nggak ada batas, anarkis dong. Kalau saya lagi badmood hari ini ada tembok kosong, saya pilox ajalah, kalau disetop Pol PP saya bilang, eh Pol PP jangan ganggu saya, ini saya lagi salurkan kreativitas. Apa mau begitu pola pikir Ketua DPR? Kan nggak," tutur Ernest.


Belasan pertanyaan polisi telah dijawabnya dalam pemeriksaan selama 2,5 jam tadi. Rian juga menyampaikan polisi akan melanjutkan permintaan keterangan dengan memanggil politikus PSI lain, yakni Tsamara Amany dan Guntur Romli.

"Penyidik akan memanggil beberapa orang yang mengetahui peristiwa ini. Misalnya, mungkin akan dipanggil juga Tsamara karena beliau juga mengetahui kan atau juga Bro Guntur Romli juga mungkin akan dipanggil," kata Rian.

Video yang bikin heboh jagat politik itu diunggah di akun Twitter Fadli Zon, yakni @fadlizon, Jumat (21/9). Link unggahan itu kemudian dibagikannya.

Video tersebut menampilkan tiga pria dan enam perempuan memakai seragam biru dan hitam serta topeng penguin. Mereka membentuk formasi tarian. Ada lagu yang terdengar mengiringi tarian itu. Lirik lagu itu memuat sindiran tajam soal fitnah terhadap HTI dan FPI, gagal mengurus bangsa, mereka yang memfitnah dan gagal itu adalah PKI, serta mereka juga takut diganti Prabowo-Sandi.
(dnu/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed