DetikNews
Jumat 12 Oktober 2018, 14:31 WIB

Politik BBM Jelang Pemilu

Mengapa Jokowi Batalkan Kenaikan Harga Premium

Erwin Dariyanto - detikNews
Mengapa Jokowi Batalkan Kenaikan Harga Premium Foto: Pradita Utama/detikcom
Jakarta - Dalam waktu satu jam, rencana pemerintah menaikkan harga Premium dari Rp 6.450 menjadi Rp 7.000 per liter dibatalkan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta rencana kenaikan itu ditunda.

Peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS (Centre for Strategic and International Studies) Arya Fernandes melihat salah satu pertimbangan pembatalan itu berhubungan dengan elektabilitas Jokowi sebagai calon presiden petahana. Pemerintahan Jokowi saat ini dihadapkan pada kondisi yang sulit.



Dari faktor eksternal ada kondisi perekonomian global yang tak menentu, juga menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Di dalam sendiri, pemerintah harus mengamankan postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Salah satu cara mengamankan postur APBN itu adalah menyesuaikan harga BBM, termasuk Premium. Namun cara ini berisiko secara politik. Kenaikan harga BBM jenis Premium akan mengakibatkan harga barang dan kebutuhan pokok masyarakat naik.



Menurut Arya, kenaikan harga tersebut akan memunculkan ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi di bidang ekonomi. "Ini akan mengganggu posisi politik Jokowi, terutama penerimaan publik dan elektabilitas. Maka akhirnya pemerintah menunda kenaikan," kata Arya saat berbincang dengan detikcom, Jumat (12/10/2018).

Apalagi, pemilihan umum tinggal 5,5 bulan lagi. Lazimnya calon presiden petahana akan menjaga untuk tidak mengambil keputusan menaikkan harga BBM. Dalam catatan detikcom, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika ingin maju lagi pada periode kedua terakhir kali menaikkan harga BBM adalah satu tahun menjelang Pemilu 2009.

Selama 2004-2009, SBY tercatat menaikkan harga BBM sebanyak tiga kali. Pertama pada 1 Maret 2005 harga Premium naik menjadi Rp 2.400 dari Rp 1.810 per liter. Tujuh bulan kemudian, yakni pada 1 Oktober 2005, SBY kembali menaikkan harga Premium menjadi Rp 4.500 per liter.

Kenaikan harga BBM ketiga dilakukan pada 24 Mei 2008. Harga Premium yang sebelumnya Rp 4.500 naik menjadi Rp 6.000 per liter. Hingga Pemilu 2009, SBY tak menaikkan harga BBM. Baru pada periode kedua menjabat, yakni tahun 2013 harga Premium naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 6.500.

"Artinya, SBY, kenaikan terakhir setahun menjelang pemilu. Jadi data ini menunjukkan bahwa SBY di periode pertama itu berhati-hati dalam menaikkan harga BBM, karena implikasi efek elektoralnya. Ini juga yang dilakukan Jokowi," papar Arya.


Simak Juga 'Kata Pertamina soal Harga Premium Batal Naik':

[Gambas:Video 20detik]



(erd/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed