DetikNews
Kamis 11 Oktober 2018, 22:36 WIB

Make Indonesia Great Again Vs Hiduplah Indonesia Raya

Ibnu Hariyanto, Elza Astari Retaduari, Tsarina Maharani - detikNews
Make Indonesia Great Again Vs Hiduplah Indonesia Raya Prabowo Subianto (Arief Ikhsanudin/detikcom)
Jakarta - Pernyataan Prabowo Subianto yang mirip dengan slogan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ramai dibicarakan. Para pendukungnya memberi pembelaan, sedangkan kubu Joko Widodo melempar kritik.

Pembahasan soal slogan kampanye Trump disampaikan Prabowo saat sambutan di Rakernas LDII di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin, Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2018). Menurutnya, slogan khas Trump itu bisa diadopsi bangsa Indonesia.

"Begitu AS merasa kalah bersaing dengan Tiongkok, mereka menyatakan perang dagang, tidak ada free trade (perdagangan bebas). Kenapa mereka mengatakan, 'America first, make America great again,' dia mengatakan, 'The important sign is American job,'" kata Prabowo.

"Kok bangsa ini tidak berani mengatakan, bagi bangsa Indonesia, 'Indonesia First, Make Indonesia Great Again'. Mengapa pemimpin Indonesia tak ada yang berani mengatakan yang penting adalah 'pekerjaan bagi rakyat Indonesia'," sambungnya.


'Make America Great Again' adalah slogan kampanye yang hak patennya dipegang Presiden AS Donald Trump. Slogan itu digunakan Trump pada Pilpres AS 2016 yang dimenanginya.

Pernyataan Prabowo itu dikritik oleh Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf. Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding, menyebut Prabowo hanya ikut-ikutan.

"Apa yang disampaikan oleh Pak Prabowo menurut saya ikut-ikutan, latah. Sungguh kurang kreatif, dan copy-paste. Sesungguhnya pemimpin-pemimpin kita di era sekarang ini didorong untuk belajar. Tetapi punya karakter, punya prinsip sendiri, itu yang dibutuhkan," ucap Karding.

Ia menyayangkan bila ada tokoh bangsa yang lebih membanggakan bangsa lain ketimbang bangsa sendiri. Berbeda dengan Prabowo, kata Karding, Jokowi lebih mengedepankan slogan nasionalis ketimbang mengikuti slogan negara lain.

"Kita punya kebudayaan tradisi yang luar biasa. Oleh karena itu, kalau bagi Pak Jokowi dan kami TKN, yang paling tepat bagi slogan kita itu dua, yaitu bagaimana Indonesia maju; kedua, hiduplah Indonesia Raya," tegas anggota Komisi III DPR tersebut.



Sementara itu, jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno, Pipin Sopian, memberikan pembelaan untuk Ketum Gerindra itu. Ia menyebut pernyataan Prabowo dimaksudkan untuk memotivasi rakyat Indonesia.

"Pernyataan Pak Prabowo itu juga memberikan motivasi kepada rakyat Indonesia bahwa kita sebetulnya mampu menjadi negara besar asalkan pemimpin kita berani bersikap," kata Pipin.

Ia juga menyebut Prabowo sengaja melontarkan slogan itu untuk mengkritik Presiden Jokowi. Pipin mengaitkannya dengan kebijakan soal tenaga kerja asing (TKA).

"Itu adalah kritik Pak Prabowo kepada pemerintah Jokowi yang memudahkan datangnya tenaga kerja asing ke Indonesia, padahal rakyat masih banyak yang nganggur," sebutnya.


Di sisi lain, Partai NasDem menyindir Prabowo soal slogan 'Indonesia First, Make Indonesia Great Again'. Selain disebut meniru, Prabowo dinilai salah. Salah yang dimaksud adalah pada penggunaan kata 'again' (lagi). Menurut Sekjen NasDem Johnny G Plate, Indonesia sejak merdeka belum berada pada posisi great.

"Sudah niru Donald Trump, 'America First, Make America Great Again', salah pula. Pada zaman Sriwijaya dan Majapahit, kita emang pernah great, itu belum ada Indonesia. Dari tahun '45 sampai sekarang belum ada kita great, kayaknya lebih tepat: Indonesia First, Make Indonesia Great. Nggak pakai 'again', hi-hi-hi.... Itu yang sedang dilakukan Pak Jokowi," ungkap Johnny.

Pro dan kontra tak hanya sampai situ. PKS juga memberikan pembelaan untuk capres yang diusungnya. Pernyataan yang mirip dengan slogan Donald Trump itu dianggap sebagai bentuk nasionalisme seorang Prabowo.

"Pak Prabowo memahami betul tentang situasi global dan sikap itu merupakan cerminan jiwa nasionalisme Pak Prabowo. Itu hanya ilustrasi dari Pak Prabowo tentang pentingnya spirit nasionalisme," tutur Direktur Pencapresan PKS Suhud Alynudin.
(elz/bpn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed