Korban Meninggal Bencana Sulteng Capai 1.944 Orang

Samsudhuha Wildansyah - detikNews
Senin, 08 Okt 2018 14:29 WIB
Foto: Bumi yang Terbelah di Sigi usai Gempa danTsunami. (Muhammad Taufiqqurahman-detikcom)
Jakarta - Jumlah korban meninggal akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah mencapai 1.944 orang. Para korban sudah dimakamkan.

"Saat ini yang terdata jumlah korban meninggal 1.944 orang, sudah dimakamkan massal sebanyak 885 orang. Sisanya dimakamkan atau diambil keluarga," kata Ketua Sub Satgas Pendampingan Pusat Bencana Gempa Sulteng/Deputi Pertahanan Negara Laksmana Madya A Jamaluddin di kantor BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Senin (8/10/2018).


Jumlah korban meninggal ini masih sangat dinamis. Sebab, proses evakuasi masih terus dilakukan.

Sementara, masalah listrik sudah bisa terdukung hampir 90 persen. PLTD yang ada sudah bisa berfungsi dengan baik. Dukungan listrik ke posko, perbankan, dan dapur umum juga sudah terlayani dengan baik.

"Namun masih kendalanya adalah jaringan ke konsumen, jaringan ke konsumen memang mengalami kerusakan, sehingga saat ini lebih dari seribu relawan PLN yang ngecek satu persatu bagaimana jaringan itu," ujarnya.

Dilanjutkan Jamaluddin, kondisi telekomunikasi juga semakin pulih yaitu secara umum sudah mencapai hampir 100 persen. Di Donggala 52,2 persen BTS ter-cover, di Palu sudah 56,7 persen BTS.

"Dan di tempat-tempat lain juga sudah cukup bagus, bahkan di Mamuju juga sudah 100 persen BTS sudah jalan," ujarnya.


Masalah BBM semakin hari juga semakin baik. Saat ini sudah 27 SPBU yang beroperasi di 4 kota. Rinciannya 15 di Palu, 3 di Donggala, 2 di Sigi, dan 7 di Parigi Moutong.

Selain itu, juga ada 9 mobil BBM yang miliki dispenser. "Karena perintah Wapres (Jusuf Kalla) jangan ada lagi yang pakai engkol," tuturnya.

Ditegaskan Jamaluddin, stok BBM di Donggala dan Palu masih mencukupi untuk beberapa hari ke depan.

"Stok BBM di sana masih mencukupi baik di depo Donggala mapun Palu masih mencukupi untuk beberapa hari ke depan dan setiap hari dilakukan supply melalui Donggala," ujarnya.

(idh/hri)